CATATANKU

This category contains 6 posts

Holiday / Liburan di Pulau Tidung Kepulauan Seribu

Setelah selalu disibukan dengan kegiatan Kantor di Jakarta, akhirnya mencari alternatif liburan yang mengasyikan… Setelah googling dan kebetulan di Jakarta ada teman dekat yang sedang magang di Jakarta, akhirnya Pergilah kami liburan di Pulau Tidung Kepulauan Seribu.

Dengan menggunakan jasa Travel agar tidak repot mengurus segala keperluan di Tidung (harganya juga cukup terjangkau) akhirnya kami berangkat jam 06.30 tanggal 1 Agustus 2015 melalui Pelabuhan Muara Angke. Di pelabuhan kami di jemput oleh awak kapal langganan Travel kami. Waoo.. berhubung akhir pekan, ramai sekali wisatawan yang berlibur kepulau Tidung.. Berikut semua rangkaian kami di pulau Tidung yang sempat kami dokumentasikan…. Selamat Berlibur…

Iklan

Sudah Menikah, tapi Masih Berpacaran

Jarrid Wilson adalah seorang pria bahagia yang sudah menikah. Di blog yang ditulisnya, ia mengungkapkan sebuah pengakuan yang spesial.

Pria yang sudah menikah
“Saya ingin membuat sebuah pengakuan. Saya berkencan dengan seseorang, meskipun saya sudah menikah. Ia sungguh luar biasa. Ia adalah orang yang cantik, pintar, cerdik, kuat dan memiliki iman yang kuat. Saya sangat suka ketika mengajaknya keluar untuk makan malam, menonton ke bioskop, menghadiri acara-acara tertentu dan mengatakan kepadanya berulang kali bahwa ia begitu cantik. Saya tidak ingat kapan terakhir kali saya marah kepadanya dengan durasi lebih dari 5 menit dan apapun yang terjadi pada hari itu, senyumnya selalu menjadi hiburan tersendiri bagi saya.
Terkadang ia membuat kejutan saat saya sedang bekerja, di lain kesempatan ia akan memasak sesuatu yang lezat untuk saya. Saya selalu bersyukur atas kesempatan yang saya dapat karena bisa bertemu dengan dirinya, meskipun ketika saya sudah menikah. Anda harus mencobanya sendiri. Anda akan lihat seberapa besar perubahan dalam hidup Anda.
Oh! Apakah saya pernah menyebutkan bahwa wanita yang saya ceritakan di atas adalah istri saya? Atau apa yang ada dalam pikiran Anda?
Ketika Anda menikah, itu bukanlah akhir dari segalanya. Saya ingin terus ‘berpacaran’ dengan istri saya, meskipun kami sudah menikah. Hanya karena kami berdua sudah mengucapkan “Saya bersedia”, saya tidak akan berhenti mencari cara untuk menaklukkan istri saya. Sejauh yang saya lihat, sebuah hubungan pada akhirnya tidak dapat berjalan dengan lancar ketika salah satu dari pasangan itu sudah tidak berusaha untuk terus mencari tahu informasi mengenai pasangannya setiap hari.
Ketika berpacaran, Anda akan berusaha saling mengenal satu sama lain dengan cara yang unik. Mengapa Anda ingin berhenti? Seharusnya itu tidak pernah berhenti. Perasaan gugup ketika pertama kali Anda berkencan, bisa Anda rasakan berulang-ulang bahkan setelah beberapa tahun berlalu. Setiap hari seharusnya Anda bersikap layaknya pertemuan pertama Anda dengan pasangan. Semua orang pasti akan merasakan perubahan yang drastis apabila mengikuti pola pikir seperti itu.
Komunikasi dan rasa penasaran yang terus menerus dipupuk adalah salah satu kunci dalam membangun hubungan yang sukses. Tidak ada orang yang ingin bersama dengan pasangan yang tidak perduli kepada dirinya dengan sepenuh hati.
Saya meyakinkan Anda, dengan sepenuh hati saya, untuk terus ‘berpacaran’ dengan istri Anda dan untuk mengerti bahwa ‘berpacaran’ tidak selesai begitu saja meskipun Anda telah bersama-sama mengatakan “Saya bersedia”

-Jarrid Wilson-

Hiduplah dengan cinta yang dipenuhi rasa penasaran dan rasa ingin mengenal satu sama lain dengan lebih baik.

Indahnya Masa Sekolah Dasar di Tahun 90an

Ini dia masa – masa indah ketika Sekolah Dasar di tahun 90-an, silahkan baca dan bandingkan dengan masa Sekolah Dasar saat ini.

1. Guru Kelas hanya Satu

Mungkin untuk yang satu ini masih berlaku sampai sekarang, guru kelas di SD mengajar hampir semua mata pelajaran, hanya pada mata pelajaran tertentu saja guru akan berganti, biasanya guru olah raga dan guru agama, guru kelas itu pula lah yang menjadi wali kelas, dan mungkin karena itu pula lah sebagian besar anak Sekolah Dasar hanya memiliki 1 buku tulis yang digunakan untuk semua mata pelajaran (terutama saat masih kelas 1 sampai kelas 3).

2. Perlengkapan Sekolah Seadanya


Dulu waktu SD jarang memakai sepatu, paling sering memakai sandal, meskipun guru melarang, tetapi mereka tidak bisa berbuat apa-apa karena lebih banyak dari kita yang memakai sandal dari pada memakai sepatu, buku pelajaran cuma beberapa, buku tulis juga sedikit, bahkan ballpoint dan pensil antara ada dan tiada. Dan jujur saja, untuk perlengkapan yang sifatnya pribadi seperti baju dalam jarang dipakai, tidak tau kalo teman yang cewek. hehe

3. Isi Tas Kebanyakan Mainan


Namanya juga anak-anak yang identik dengan bermain, saat sekolah adalah saat yang paling mengasikkan untuk bermain, meskipun waktunya sangat terbatas, tapi tetap saja mengasikkan, mungkin karena banyaknya teman sehingga mainan yang dipakai untuk bermain pun ikut dibawa ke sekolah,  masih ingat dulu suka membawa gambar, kelereng, karet gelang dan teman-teman cewek banyak membawa bola bekel dan bongkar pasang.

4. Waktu Istirahat = Waktu Bermain


Waktu istirahat sekolah adalah waktu yang selalu dinanti oleh anak-anak SD, karena waktu itu berarti waktu untuk bermain, sangat jarang melihat teman-teman membeli jajan saat istirahat, ditiap sudut sekolah dan dimana saja terlihat anak-anak bermain, hampir semua permainan dilakukan, tidak peduli cewek atau cowok semuanya bisa bermain bersama karena memang waktu kecil kita masih belum mengenal yang namanya “rasa”.

5. Sering Pulang Cepat


Bukan hanya tidak masuk sekolah dengan alasan aneh saja yang ditemui saat SD dulu, waktu pulang sekolah pun bisa cepat dengan alasan yang aneh-aneh pula, sering sekali anak SD itu dipulangkan lebih cepat dari waktu biasanya dengan berbagai alasan, yang paling aneh adalah guru diundang hajatan, maka yang dikorbankan adalah muridnya, kita dipulangkan lebih cepat dari biasanya, tentu saja tidak ada yang protes, semua menyambut dengan suka cita.

Sumber .

Nah, itu dia sekedar masa indah Sekolah Dasar ditahu 90an. Kalau zaman sekarang gimana ya? apakah hal ini masih sering dirasakan? atau hanya dirasakan oleh siswa yang sekolah di kampung saja yang belum terlalu mengenal teknologi seperti sekarang ini?

Ingin Berbuat Baik, Tapi Malu dan Takut

Menurut saya, semua orang punya keinginan untuk berbuat baik karena dari kecil kita sudah diajarkan nilai – nilai kebaikan oleh orang tua kita. Sebab sudah barang pasti jika orang tua selalu mengajarkan kebaikan pada anaknya. Namun setelah dewasa ternyata berbuat baik itu tidak semudah yang kita bayangkan, banyak tantangan dan godaan dalam kita berbuat baik hingga keinginan untuk berbuat baik itu akan hilang dengan sendirinya.

Keinginan berbuat baik sering tertunda karena dua hal yaitu “Malu” dan “Takut” :

Seperti menolong seorang nenek yang ingin menyeberangi jalan raya. Bagi anak muda sekarang, perbuatan tersebut dapat memalukan dirinya di depan cewek-cewek cantik. Padahal keinginan untuk menolong nenek tersebut  ada di dalam hatinya, tapi karena diiringi oleh rasa malu maka keinginan untuk menolong seorang nenek menyeberangi jalan raya pun dibatalkan.(Muksalmina Mta)

Begitu pula rasa takut yang ada pada diri seseorang sehingga niat berbuat baik terpendam, seperti halnya menolong orang lain yang sedang dicopet atau dirampok. karena takut, orang tersebut tidak berani menolong orang yang sedang dicopet atau dirampok. (Muksalmina Mta)

Mengapa hal ini bisa terjadi?

1. Kepedulian

Saat ini dalam kehidupan bermasyarakat, rasa peduli terhadap sesama sudah jarang kita jumpai. Orang hanya akan peduli pada hal yang menyangkut dirinya sendiri tanpa pernah lagi mempedulikan orang yang membutuhkan pertolongannya. Hal seperti ini sering terjadi di kota besar, bahkan dengan tetangga pun kita terkesan tidak kenal, padahal dalam tatanan kehidupan sudah ada yang namanya Rukun Tetangga.  Orang terkesan siapa kau, siapa saya, siapa mereka (cuek).

2. Gengsi

Selain kepedulian, faktor kedua adalah karena gengsi. Gengsi membuat orang selalu melihat “keatas” tanpa mau melihat “kebawah” lagi. Gengsi membuat orang tidak lagi mau peduli terhadap hal-hal kecil dalam kehidupan, dan membuat kehidupan bagaikan persaingan untuk menunjukan siapa yang hebat dan siapa yang tidak. Sehingga saling menjatuhkan bukanlah hal yang aneh atau asing dalam kehidupan sekarang ini. Untuk berbuat baikpun kita sering menggunakan gengsi kita, kita melihat dulu siapa yang akan kita tolong, cewek/cowok kah dia, nenek-nenek/kakek-kakek kah dia, dan sebagainya

Berapa IPK-ku Semester Ini Ya?

13590895351393852277

Semua mahasiswa (termasuk saya) pasti ingin IPK (Indek Prestasi Komulatif) yang tinggi dalam kuliah, namun apakah IPK tersebut akan menjamin keberhasilan kita dalam dunia kerja nanti….???

Setiap mahasiswa yang sedang duduk dibangku kuliah sudah pasti berjuang mati-matian disetiap semester untuk mendapatan IP tinggi (bahkan sampai lupa mandi karena tugas, heheh), yang pasti bertujuan untuk cepat lulus dan menyenangkan hati orang tua (termasuk si doi.. hehe). Namun, apakah semua hanya untuk sekedar kebanggaan saja?

IPK sebagai hasil belajar dari seorang mahasiswa menjadi salah satu tujuan utama untuk cepat mendapatkan pekerjaan, banyak orang yang berpendapat bahwa:

“Semakin tinggi nilai IPK maka semakin cepat dia mendapatkan pekerjaan, dan sebaliknya”.

Sebenarnya tidak sedikit juga orang dengan nilai IPK tinggi setelah lulus kuliah masih menganggur, apakah karena mereka tidak mempunyai skill tertentu. Maybe, menurut saya skill merupakan faktor terpenting pada diri seorang mahasiswa yang akan bergelut didunia pekerjaan, contohnya saya yang saat ini kuliah didunia Telekomunikasi, dengan hanya bermodalkan IP yang bagus disetiap semester tidak menjamin saya bekerja ditempat yang saya inginkan, tetapi dengan skill saya mempunyai banyak peluang.

Kita kuliah itu tidak untuk mencari nilai tetapi ilmu, karena untuk mendapatkan nilai itu bisa dibilang cukup mudah, dengan belajar dan memahami materi serta mengerjakan final project ataupun tugas lainnya kita pasti bisa mendatkan nilai yang bagus dan sebuah nilai yang tinggi itu hanya hadiah saja, tidak lebih. Bahkan banyak pula yang mencoba mendekatkan diri dengan dosen untuk mengejar nilai bagus, bukan mengejar ilmu yang dimiliki dosen itu (Wahhh wahh wah siapa itu ya…???).

IPK memang penting, karena itu merupakan sebuah alat pengukur untuk kita. Tetapiskill-lah yang lebih penting untuk bisa terjun didunia kerja, dan bisa bersaing secara sehat dengan yang lainnya untuk kemajuan diri, keluarga dan Negara.

Lantas gimana menurut kalian.???

Apa Kabar Bhineka Tunggal Ika?

Bangsa Indonesia adalah bangsa yang luas, bangsa yang kaya dan penuh keanekaragaman, baik itu keanekaragaman hayati, flora , pauna, atau pun keanegaramana budaya, suku dan ras. Hal ini lah membuat bangsa ini menjadi bangsa yang besar, bangsa yang penuh dengan keindahan dan budaya yang begitu kental. Budaya itu membuat bangsa ini semakin kaya dan semakin indah untuk kita lestarikan untuk kita jaga bersama-sama.

Bangsa Indonesia sejak kelahirannya, dengan mengambil saripati kearifan leluhur Bangsa, telah menegaskan pengakuannya akan perbedaan-perbedaan yang bersifat niscaya, baik dalam hal suku, agama, ras, budaya dan lain sebagainya. Perbedaan-perbedaan itu sesungguhnya adalah kekayaan bangsa Indonesia.Namun demikian, dibutuhkan kecerdasan dan kearifan untuk mewujudkan hal tersebut. Sehingga terciptalah kata “Bhinneka Tunggal Ika” yang menyatakan tekat bahwa kita berbeda-beda tapi kita tetap satu, satu Tanah air, satu bangsa, satu Negara, dan satu bahasa persatuan. Kita semua berada dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Namun Alpanya kearifan dan kecerdasan dalam pengelolaan perbedaan, baik oleh kelompok-kelompok masyarakat maupun ketidak hadiran peran pemerintah, dapat berujung pada timbulnya konflik ditengah-tengah masyarakat. Alpanya kecerdasan dan kearifan kelompok-kelompok masyarakat dan ketidakhadiran peran pemerintah secara real dan substantif dalam mengelola perbedaan, kini mewujud dalam konflik antar kelompok masyarakat, sepertinya konflik di Lampung, Sumbawa Besar dan daerah lainnya. Konflik- konflik ini sangat disayangkan karena sebetulnya tidak mesti terjadi apalagi sampai membawa nama suku, ras dan daerah hingga menyebabkan perusakan dan pembakaran rumah ibadah yang mestinya menjadi tempat kita berdoa dan bersyukur , penjarahan dan pembakaran terhadap rumah-rumah penduduk yang belum tentu terkait dalam kasus yang menjadi penyebab konflik.

Lantas dimana Bhinneka Tunggal Ika yang telah dibentuk oleh pendiri bangsa kita.? Apa kabarnya kata-kata itu? Mengapa kita tidak lagi bersatu? Apakah kita diciptakan untuk saling menyakiti dan saling membenci?

Konflik- konflik ini tentu saja hal yang sangat disayangkan. Konflik yang terjadi juga sebagai bentuk gagalnya pemerintah baik pusat maupun daerah dalam menciptakan rasa aman yang merupakan hak asasi dari setiap warga Negara. Gagalnya POLRI melaksanakan tugas dan fungsinya dalam menciptakan kemanan dan pengayomanterhadap warga negara. Gagalnya muspida, tokoh agama dan tokoh masyarakatuntuk menenangkan masyarakat dan melakukan memediasi perdamaian sehingga tercipta komitmen perdamaian yang kuat.

Tentu hal ini menjadi sebuat “tugas besar” bagi kita semua untuk menciptakan sebuah perdamaian terhadap bangsa yang kita cintai ini. Jangan sampai kita akan terjajah lagi akibat kegagalan kita menciptakan persatuan dan mempertahankan kemerdekaan yang telah diberikan oleh pendiri bangsa kita. Buktikan kepada dunia bahwa kita satu dalam bingkai NKRI.

Bendera Pengunjung

Flag Counter

TRANSLATOR

kalender

November 2017
M S S R K J S
« Agu    
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  

Ayo Gabung dengan yang lainnya
Masukan Alamat Email mu

Bergabunglah dengan 1.906 pengikut lainnya