UMUM

This category contains 38 posts

Keuntungan Saat Masak Bersama Ibu

1. Tambah Sayang

Ya pasti lah ini, sambil kita masak dengan ibu dan membantu ibu dalam memasak kita jadi tau keseharian ibu itu bagaimana dan pasti kita menyadari bahwa ibu itu sungguh luar biasa. Tidak kenal lelah dan terus memasak dengan sepenuh hatinya untuk suami dan anak.

 

2. Pengalaman Masak

ya setidaknya kalo kita sering memasak dengan ibu jadi tau kalo masak ini harus gini.. Dan lebih hebatnya lagi jika  bisa aplikasikan pengalaman yg di dapet ketika masak sama ibu, itu bisa menjadi modal Jika suatu saat kita hidup sendiri.

3. Teman NgobrolKita jadi bisa cit cat seputar kehidupan luar yg notabenenya ibu lebih lama hidupnya dari kita . Dan mendapat wawasan dari pengalaman ibu yg diceritakan ke kita, itu moment yang paling berharga kapan lagi kita punya waktu seperti itu?

4. Termotivasi
Termotivasi dengan apa? banyak kok hanya dengan memasak ibu telah memperlihatkan kita semangat, cinta, kasih sayang, tak kenal lelah, dan apabila ini diaplikasikan ke kehidupan kita dapat membuat kita sukses.

Thank to Kaskus.

 

Iklan

Umat Hindu Kota Makassar Bersihkan Terminal Regional Daya

 

Makassar, 22 Februari 2015 – Umat Hindu Kota Makassar melaksanakan kegiatan Bakti Sosial dan Penghijauan di lingkungan Terminal Regional Daya. Kegiatan ini dilaksanakan sebagai bentuk partisipasi umat Hindu kota Makassar terhadap Program Bapak Wali Kota Makassar yaitu MTR (Makassar ta tidak rantasa) dan LISA (Lihat sampah ambil). Kegiatan ini juga merupakan rangkaian dari penyambutan Hari Raya Nyepi yang akan jatuh pada bulan Maret 2015 nanti.

Ketua Panitia Bapak Gede Durahman menyatakan selain sebagai bentuk Partisipasi umat Hindu kota Makassar terhadap program kerja pemerintah tapi kegiatan ini juga sebagai bentuk pembelajaran terhadap siswa-siswa Pasraman agar lebih peduli terhadap kebersihan lingkungan.

Sedangkan Camat Biringkanaya Bapak Syahrun yang juga hadir pada kesempatan ini mengatakan pemerintah khususnya jajaran Camat Biringkanaya sangat mengapresiasi apa yang dilakukan oleh Umat Hindu hari ini sebagai wujud kerukunan umat beragama dan bersama – sama dalam mendukung program Pemerintah Kota Makassar. *PNG*

BACA JUGA:

 

Perpustakaan Terbesar di Dunia

Mungkin anda suka membaca di perpustakaan dan anda suka pada perpustakaan yang lengkap maka perpustakaan dibawah ini menjadi pilihannya.

Buku adalah Jendela ilmu, karena dengan buku kita dapat mengetahui banyak hal. jadi tidak heran banyak orang yang menganggap buku sebagai ilmu pengetahuan terbaik. Tidak heran juga banyak orang yang sering menghabiskan waktu untuk membaca di perpustakaan.

 Perpustakaan Terbesar di Dunia ini memiliki jumlah koleksi buku kurang lebih sekitar 33 juta buku. Koleksinya tidak hanya buku, ada juga koleksi film, peta, manuscript dan lain sebagainya. Perpustakaan Terbesar di Dunia ini pernah masuk dalam film National Treasure 2.
Ada 10 Perpustakaan Terbesar di Dunia yang sering dikunjungi oleh banyak orang hingga saat ini. Tentu kita bertanya dimana Perpustakaan Terbesar di Dunia. Perpustakaan Terbesar di Dunia terletak di Washington D.C, Amerika Serikat. Dan untuk lebih lengkapnya silehkan anda baca sendiri dibawah ini.

Perpustakaan terbesar didunia

Dibawah ini adalah 10 nama perpusatakaan terbesar didunia.
1. Library of Congress 
Perpustakaan terbesar didunia
Library of Congress berada di Washington DC, Amerika Serikat dan didirikan pada tahun 1800. Perpustakaan ini memiliki stock lebih dari 30 juta buku. Library of Congress ini sempat muncul di film National Treasure 2.
2. National Library of China
Perpustakaan terbesar didunia
National Library of China adalah perpustakaan yang berada di Beijing, Cina dan didirikan pada tahun 1909. Perpustakaan ini memiliki stock lebih dari 22 juta buku.
3. Library of the Russian Academy of Sciences
Perpustakaan terbesar didunia
Perpustakaan terbesar didunia ini bernama Library of the Russian Academy of Sciences terletak di St Petersburg, Rusia yang didirikan pada tahun 1714. Perpustakaan ini memiliki stock lebih dari 20 juta buku.
4. National Library of Canada
Perpustakaan terbesar didunia
National Library of Canada berada di Ottawa, Kanada dan didirikan pada tahun 1953. Perpustakaan ini memiliki stock lebih dari 18.800.000 buku.
5. German National Library
Perpustakaan terbesar didunia
German National Library berada di Frankfurt, Jerman dan dibangun pada tahun 1990. Perpustakaan ini memiliki stock lebih dari 18.500.000 buku.
6. British Library
Perpustakaan terbesar didunia
British Library terletak di London, Inggris dan didirikan di tahun 1753. Perpustakaan ini memiliki lebih dari 16 juta buku.
7. Institute for Scientific Information Russian Academy of Sciences
Perpustakaan terbesar didunia
Institute for Scientific Information Russian Academy of Sciences berada di Moskow, Rusia dan didirikan tepatnya di tahun 1969. Perpustakaan ini memiliki lebih dari 13.500.000 buku.
8. Harvard University Library
Perpustakaan terbesar didunia
Perpustakaan terbesar didunia kali ini adalah Harvard University Library berada di Cambridge, MA, USA. Harvard University Library dibangun pada tahun 1638 dan memiliki stock lebih dari 13.100.000 buku.
9. Vernadsky National Scientific Library of Ukraine
Perpustakaan terbesar didunia
Vernadsky National Scientific Library of Ukraine berada di Kiev, Ukraina. Vernadsky National Scientific Library of Ukraine dibangun tahun 1919 dan diketahui memiliki stock lebih dari 13 juta buku.
10. New York Public Library
Perpustakaan terbesar didunia
New York Public Library terletak di Kota New York, NY, USA. New York Public Library dibangun tahun 1895 dan memiliki lebih dari 11 juta buku.

Smbr: DiDunia.Net

BACA JUGA:

Burung Paling Mematikan di Dunia

http://www.didunia.net/
Hawks and Falcons Seperti burung pemangsa lain nya, mereka memiliki cakar tajam dan paruh kuat yang digunakan untuk berburu, bersama dengan kecepatan dan kelincahan, menciptakan bahaya serius bagi manusia, bahkan jika hanya burung bayi (paruh nya ‘juga dapat dikonfigurasi secara khusus untuk memotong melalui saraf tulang belakang dari mangsa mereka).
https://i0.wp.com/lh3.ggpht.com/_DeVkd7Dag10/TFAlo1bbiNI/AAAAAAAADOc/fN6vTSVXLLw/Hawks%20and%20Falcons_thumb%5B7%5D.jpg
Owls Burung hantu adalah raptors, atau burung pemangsa, dan mereka menggunakan cakar dan paruh untuk membunuh, menangkap dan makan. Dalam sebuah ruang tertutup, atau jika burung itu ada dalam ketakutan atau gelisah, bisa berakibat sangat buruk kepada Anda.
http://www.didunia.net/
Seagulls Burung camar sangat agresif dan dikenal sering menyerang dan bahkan mematuk di kepala orang-orang untuk melindungi sarang dan anak nya. Bahkan, orang-orang Inggris terpaksa membawa payung untuk menghindari serangan itu, setidaknya seorang wanita dibawa ke ruang gawat darurat dengan paruhnya karena luka mendalam di kepala, dan anjing-anjing dibunuh oleh burung-burung.
http://www.didunia.net/
Canada Geese Angsa Kanada sangat agresif, terutama jika Anda (sengaja atau tidak sengaja) mendekati sarang mereka atau anak mereka, maka mereka akan mengejar Anda hingga pergi dan bahkan menggigit Anda.
http://www.didunia.net/
 
Ostriches Burung unta adalah burung gugup dan dapat berbahaya. Mereka merupakan burung terbesar yang masih ada (mereka dapat mencapai lebih dari sembilan meter dan 350 pon) dan kecepatan mereka berlari sangat besar (mencapai 30 mil per jam selama 10 mil lurus). Seperti burung kasuari, mereka memiliki kaki yang kuat (tendangan mereka dapat membunuh seekor hyena), juga mempunyai cakar tajam.
http://www.didunia.net/
 
Cassowaries Kasuari, sebuah spesies terancam punah, burung besar yang hidup di hutan hujan, hutan dan rawa di Australia. Kasuari tidak bisa ditebak, agresif dan dikenal untuk kaki besar mereka, dan juga mencakar. Tendangan mereka mampu memecahkan tulang, dan cakar mereka telah bisa disamakan dengan belati.
sumber: http://didunia.net/

BACA JUGA:

Bangunan Terunik Di Dunia

1. Hoover Dam, Black Canyon, Sungai Colorado, Amerika Serikat (AS)
http://www.didunia.net/
Bendungan yang membatasi negara bagian Arizona dan Nevada ini adalah sebuah keajaiban dari arsitektur modern. Bangunan ini terkenal dengan desain art deco-nya yang indah dan menekankan kesederhanaan. Tak hanya penampilan luarnya, bagian dalam bangunan ini pun sangat indah. Pasalnya, lantai berbahan marmer teraso dan bercorak Indian itu sangat sayang untuk dilewatkan. 
2. Shwedagon Pagoda, Yangon, Myanmar
http://www.didunia.net/
Tradisi menyumbangkan emas untuk pagoda di abad ke-15 silam memang membuahkan hasil yang memuaskan. Dihiasi ribuan berlian dan batu delima, bagian luar mahakarya seni yang satu ini tak mungkin terkalahkan. Terkecuali oleh desain bagian dalamnya dengan langit-langit yang sangat bagus dan hiasan barang peninggalan kuno Buddha.
 
3. Majolica House, Wina, Austria
http://www.didunia.net/
Diskripsi yang tepat untuk gedung yang satu ini adalah aneh, mencolok, dan benar-benar mengagumkan. Diciptakan oleh Otto Wagner, Majolica House adalah salah satu karya agung terbaik dari gerakan seni Art Nouveau.
 
4. Opera de Arame, Curitiba, Parana, Brasil
http://www.didunia.net/
Tak seperti bangunan teater pada umumnya, Opera de Arame dikelilingi oleh tiang-tiang baja dan sangat transparan. Teater ini juga sering menjadi tempat diadakannya beberapa pertunjukan drama penting di negara itu. Meski sangat indah jika dikunjungi siang hari, bangunan ini bahkan lebih spektakuler dengan cahaya lampu-lampunya di malam hari.

5. 30 St. Mary Axe, London, Inggris
http://www.didunia.net/
Gedung pencakar langit modern di Kota London, Inggris, ini berbentuk seperti peluru kendali atau mentimun. Disaat sebagian orang mengejek desainnya yang aneh, sebagian lagi terkesima oleh keasliannya. Dengan ukuran tiga kali lebih tinggi dari Air Terjun Niagara, bangunan yang juga disebut The Gherkin ini bukanlah tempat yang tepat bagi mereka yang takut akan ketinggian.
 
6. Jantar Mantar, Jaipur, Rajasthan, India

 
Planetarium dari abad ke-17 ini berperan penting untuk meramalkan peristiwa astronomi maupun meteorologi di daerah tersebut. Lokasi yang paling mengagumkan adalah alat penunjuk waktu dgn bantuan mataharinya atau disebut juga dengan Samrat Yantra.

BACA JUGA:

Pembangun Rumah Sakit Apung Swasta Pertama Indonesia

Dr Lie Dharmawan di indonesiaproud wordpress com

Berawal dari kepeduliannya terhadap warga miskin dan sulit mendapat layanan kesehatan akhirnya Dr. Lie A. Dharmawan, Ph.D, Sp.B, Sp.BTKV membangun rumah sakit apung swasta pertama di Indonesia.

Setelah menghabiskan waktu 4 tahun, kapal yang berfungsi sebagai rumah sakit ini siap mengarungi samudra menyambangi warga masyarakat yang membutuhkan.

“Ini adalah rumah sakit apung pertama milik swasta di Indonesia. Saya yakin ini adalah rumah sakit apung pertama dan akan diikuti banyak-banyak lagi rumah sakit lainnya yang pasti akan membawakan keuntungan dan kebahagian bagi bangsa dan negara kita,” tegas pria kelahiran Padang, 16 April 1946 ini.

Gagasan pembuatan rumah sakit apung ini sebenarnya sudah ada di benak Kepala Bagian Bedah RS Husada, Jakarta ini sejak tahun 2008, namun baru bisa direalisasikan tahun 2013.

Lamanya proses ini disebabkan karena adanya sikap pro dan kontra, apalagi referensi mengenai rumah sakit (RS) apung di Indonesia belum ada. Sebenarnya konsep rumah sakit apung di Indonesia sudah ada, namun milik tentara dan hanya digunakan ketika perang, sedangkan yang dimiliki swasta belum ada.

Lewat yayasan doctorSHARE yang ia dirikan tahun 2008, Dr. Lie berupaya menggalang bantuan, baik moril dan materiil untuk mewujudkan idenya.

Tim doctorSHARE awalnya sulit menemukan jenis kapal yang sesuai. Beberapa jenis kapal dipertimbangkan untuk dicoba, namun akhirnya diputuskan menggunakan perahu nelayan yang sederhana karena dianggap lebih memadai. Setelah jadi, kapal itupun berganti nama menjadi ‘Floating Hospital’.

floating hospital Dr Lie Dharmawan di indonesiaproud wordpress com

“Kapal ini memang secara fisik kecil, ini adalah floating hosiptal yang terkecil di dunia. Tapi sebagai lawannya, sebagai kebalikannya, semangat yang menggebu-gebu, semangat yang membara tidak pernah putus asa selama 4 tahun merancang kapal ini dan bekerja untuk keberhasilan kapal ini,” terang dokter yang mengecap pendidikan S1 hingga S3-nya di Jerman ini.

Disebut kecil karena Floating Hospital ini sejatinya adalah kapal berukuran panjang 23,5 meter, lebar 6,55 meter dan bobot mati 114 ton. Kapal ini terbagi menjadi tiga dek. Dek atas untuk nahkoda dan tempat para relawan, dek tengah berisi ruangan steril dan ruang operasi, dek bawah adalah laboratorium.

Pembangunan rumah sakit ini menghabiskan dana Rp 3 miliar dari rencana semula Rp 6 miliar. Dana tersebut sepenuhnya diperoleh dari sponsor. Ada sponsor yang menyumbang dengan cara memberikan diskon untuk peralatan dan perlengkapan yang diperlukan, jadi bisa menghemat banyak biaya.

Sebagai pilot project, kapal ini melakukan pelayaran perdananya pada 16-17 Maret lalu di pulau Panggang, kepulauan Seribu. Pelayanan kesehatan yang diberikan berupa penyuluhan, pemeriksaan kesehatan, bedah minor dan bedah mayor. Sebanyak 25 dokter dan 25 orang relawan disiapkan untuk melayani pasien.

Hal yang istimewa adalah Floating Hospital ini dibangun untuk memberikan pelayanan kesehatan cuma-cuma. Dr Lie tergerak hatinya karena melihat kenyataan banyak masyarakat yang membutuhkan pertolongan medis, tapi belum mendapat kesempatan karena berbagai faktor, terutama faktor demografis dan faktor finansial.

“Kami akan berusaha mendapatkan dana dari donatur. Kami akan membuka sebuah klinik di Jakarta dan penghasilannya digunakan untuk membiayai kelangsungan hidup doctorSHARE. Kami belum tahu apa lagi yang dapat kami lakukan untuk mendapatkan dana bagi kelangsungan pelayanan yang terus kami kerjakan. Tapi satu yang menjadi concern kami, masyarakat tidak akan kami bebani dengan pembayaran,” ungkap Pendiri Mahasiswa Kedokteran Indonesia di Berlin (1971) dan Pengurus Perhimpunan Dokter Indonesia di Jerman (1981-1984) ini.

Dalam sehari, Dr. Lie berhasil melakukan 3 operasi di atas kapal. Walau kapal sesekali bergoyang karena ombak, dokter yang kesehariannya bertugas sebagai kepala dokter bedah di RS Husada ini bisa melakukan operasi dengan baik. Direncanakan akan ada 15 pasien yang menjalani operasi bedah di atas kapal, sedangkan penyuluhan kesehatan dilakukan di Balai Karang Taruna.

Ada beberapa kendala yang ditemui dalam pelayaran pertama RS apung ini, salah satunya adalah kecepatan kapal yang hanya 6 – 7 knot. Jika dikonversikan, kecepatannya adalah sekitar 11 – 13 km/jam, cukup lambat jika dibandingkan speed boat. Kendala lain adalah beberapa peralatan yang belum bisa dioperasikan, misalnya alat rontgen.

“Sesudah pulang dari Kepulauan Seribu, kami akan mereview apa yang menjadi kekurangan kami, misalnya kapal ini terlalu pelan jalannya. Kalau memungkinkan, dari segi finansial kami bisa mendapatkan dana, lalu secara teknis mesinnya bisa diganti, kami akan mengganti dengan mesin yang lebih baik dan besar agar kapal ini bisa lebih cepat jalannya,” terang Wakil Ketua INTI (Perhimpunan Indonesia-Tionghoa) DKI Jakarta (2000-sekarang) yang merangkap Ketua INTI Pusat bidang kesehatan (2005-sekarang) ini.

Masalah mesin tentu menjadi permasalahan yang cukup serius karena kapal ini direncanakan menjelajah daerah-daerah terpencil, lebih terpencil dari kepulauan seribu yang masih masuk dalam wilayah DKI Jakarta. Jadi bisa dibayangkan, sarana dan prasarananya tentu jauh lebih minim.

Karena tidak memungut biaya dari pasien, Dr. Lie berharap bisa menjalin kerja sama dengan aparat setempat. Misalnya jika di suatu tempat sudah ada puskesmas, dokter setempat diharapkan bisa menjadi ujung tombak mencari pasien yang butuh pelayanan. Hal itu akan mempersingkat waktu singgah sehingga tim bisa melanjutkan ke tempat lain.

“Kami merencanakan tujuan kami berikutnya bulan April ini Bangka Belitung dan Kalimantan Barat. Sesudah itu kami akan ke Bali, Sumba, Flores, Timor Barat dan kepulauan Kei karena kami sudah punya home base di sana. Kami punya 2 panti di sana, Therapeutic Feeding Center KAI. Ada 2 pulau Kei besar dan Kei kecil,” ungkap Dr. Lie.

Sumber: http://indonesiaproud.wordpress.com/

BACA JUGA:

Nilai Sumpah Palapa

Cuaca mendung saat Yusmaini Eriawati dan belasan arkeolog dari Pusat Arkeologi Nasional melakukan penggalian di Desa Bejijong, Kecamatan Trowulan, Rabu (28/11). Ini salah satu upaya mengungkap sisa masa keemasan Kerajaan Majapahit, termasuk Sumpah Palapa yang ”menjahit” Nusantara.

”Ternyata di sini kosong. Tidak ada struktur bangunan ataupun artefak,” ujar Eriawati, Ketua tim peneliti Pusat Arkeologi Nasional (Pusat Arkenas). Selanjutnya, tim berencana memindahkan penggalian di sebelah barat Candi Brahu yang masih berada di Desa Bejijong. Namun, survei dihentikan karena hujan deras mengguyur.

Penggalian arkeologis di Desa Bejijong ini dilakukan dengan mempertimbangkan pernah ditemukannya arca Buddha Mahasobya (patung Joko Dolog) yang berasal dari masa Kerajaan Singosari, arca Loro Jonggrang, dan semacam tempat mengikat gajah.

Situs Trowulan di Jawa Timur memang menyimpan sisa keagungan Kerajaan Majapahit yang hingga kini terus diteliti. Dengan hamparan benda cagar budaya yang tersebar di berbagai lokasi, Trowulan menjadi laboratorium arkeologis terlengkap di pelosok Nusantara.

Di kawasan ini, ditemukan ratusan ribu peninggalan arkeologis, berupa artefak, ekofak, dan fitur yang diperkirakan berasal dari abad ke-12 hingga abad ke-15. Atas dasar temuan itu pula, para arkeolog dan peneliti menyimpulkan Trowulan sebagai ibu kota Kerajaan Majapahit seluas 99 kilometer persegi. Situs ini mencakup Kecamatan Trowulan dan Sooko (Mojokerto) serta Kecamatan Mojoagung dan Mojowarno (Jombang).

Eriawati mengaku pernah menemukan keramik asal Vietnam, Thailand, dan China yang merujuk pada masa periode Majapahit. Temuan keramik ini juga membuktikan Kerajaan Majapahit pernah menjalin hubungan dagang dengan negara lain di Benua Asia.

Hampir setiap tahun, Pusat Arkenas (dulunya Pusat Penelitian Arkenas) menjadwalkan penggalian arkeologi di Trowulan guna mengungkap tata kota Majapahit dan kehidupan sosial budaya masyarakat saat itu. ”Biasanya kami melakukan penggalian pada bulan Mei karena tak terhambat hujan,” kata Wati.

Diteliti sejak dulu

Penelitian di Trowulan juga dilakukan mahasiswa jurusan arkeologi, dosen arkeologi, peneliti, arsitek, dan ahli sejarah dari berbagai kampus dan lembaga penelitian. Sudah tak terhitung berapa ribu kali penggalian arkeologis dan penelitian di Trowulan.

”Sejauh ini, Trowulan masih menjadi laboratorium arkeologis terlengkap karena banyaknya temuan di kawasan ini. Itulah kenapa banyak kampus yang memilih melakukan penelitian di Trowulan,” ujar arkeolog dari Badan Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Timur, Danang Wahyu Utomo.

Berdasarkan penelitian, terdapat setidaknya 32 kanal dan 14 situs cagar budaya di Trowulan yang sudah teridentifikasi. Situs tersebut berupa dua pintu gerbang: Gapura Bajangratu dan Gapura Wringin Lawang, waduk seperti Kolam Segaran, lalu situs permukiman seperti Situs Kedaton, Situs Permukiman, Situs Sentonorejo, dan Situs Pendopo Agung.

Ada juga tempat pemujaan, seperti Candi Brahu, Candi Gentong, Situs Klinterejo, dan Candi Tikus. Selain itu, terdapat makam para petinggi, seperti makam Troloyo, makam Putri Campa, dan makam Panjang.

KOMPAS/BAHANA PATRIA GUPTA
Pengunjung berada di Candi Kedaton di Kecamatan Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur, Selasa (27/11). Candi Kedaton merupakan satu dari sekian banyak situs peninggalan Kerajaan Majapahit yang ditemukan di Trowulan

Majapahit merupakan kerajaan Hindu-Jawa yang pertama kali didirikan oleh Raden Wijaya. Peradaban Majapahit muncul tahun 1293 dan diperkirakan runtuh pada awal abad ke-16. Raja yang tersohor di Majapahit adalah Hayam Wuruk dengan sang patih Gajah Mada.

Data BPCB Jawa Timur menyebutkan, peninggalan Majapahit di Trowulan sudah diteliti sejak 1815 oleh peneliti Belanda, JW Bartholomeus Wardenaar. Dia mendapat tugas dari Sir Thomas Stamford Raffles yang menduga adanya peninggalan Majapahit di Trowulan seperti disebutkan dalam buku History of Java (1817).

Penelitian berikutnya dilakukan WR Van Hovell, JVG Brumund, dan Jonathan Rigg yang kemudian diterbitkan dalam Journal of The Indian Archipelago and Eastern Asia. RDM Verbeek juga mengadakan kunjungan ke Trowulan dan menerbitkan laporannya pada 1889.

Selanjutnya, penelitian dilakukan RAA Kromodjojo Adinegoro (1849-1916), salah satu Bupati Mojokerto yang sangat menaruh perhatian terhadap peninggalan arkeologi di Trowulan. Lalu, ada J Knebel (1907) dan arsitek Belanda, Henry Maclaine Pont (1921-1924).

Para peneliti inilah yang memiliki kontribusi sebelum Trowulan ”disepakati” sebagai bekas ibu kota Majapahit. Sebut saja, Bupati Kromodjojo yang menggali Candi Tikus pada 1914 dan bekerja sama dengan Henry Maclaine Pont untuk merintis pembangunan Oudheidkundige Vereeneging Majapahit, museum yang kini berganti nama menjadi Pusat Informasi Majapahit.

Henry Maclaine Pont juga menemukan Kolam Segaran, sebuah situs waduk seluas 6,5 hektar yang diduga menjadi tempat menjamu tamu raja pada masa Majapahit. Selain penemuan ini, Maclaine Pont berhasil membuat sketsa rekonstruksi kota Majapahit di Trowulan dengan mengacu pada kitab Nagarakretagama karya Mpu Prapanca.

Kala itu, Maclaine Pont menggambarkan bentang kota Majapahit dalam bentuk jaringan jalan dan tembok keliling yang membentuk blok-blok empat persegi. Dalam kitab Nagarakretagama, nama Majapahit diganti Wilwatikta.

Di buku Tafsir Sejarah Nagarakretagama, Slamet Muljana menuliskan, Majapahit terletak di lembah Sungai Brantas di sebelah tenggara kota Majakerta, sebuah kota kecil di persimpangan Kali Mas dan Kali Porong. Adapun keraton lama Majapahit terletak dekat Tarik di Trawulan (Trowulan).

Sumpah Palapa

Sejarawan dari Universitas Negeri Surabaya, Hanan Pamungkas, mengatakan, Trowulan hampir dipastikan sebagai pusat Kerajaan Majapahit karena memiliki situs permukiman padat penduduk. Tidak ada lagi situs bekas kerajaan Majapahit lain yang menyerupai Trowulan.

Melalui berbagai penelitian, penjelajahan Hayam Wuruk, kearifan Tribuwana Tunggadewi, dan Sumpah Palapa dari sang patih Gajah Mada ini kembali menggaung. Semangat Sumpah Palapa yang menyatukan Nusantara perlu diaktualisasikan dan direvitalisasi di tengah maraknya keretakan sosial.

sumber: kompas

BACA JUGA:

Sepenggal Sulaman Sejarah Gorontalo

Tradisi mokarawo atau membuat sulaman adalah sepenggal sejarah yang pernah diselamatkan kaum perempuan Gorontalo. Dulu Belanda berupaya menghilangkan berbagai tradisi dan identitas lokal. Tradisi ini sudah ada sejak tahun 1600-an, jauh sebelum Belanda berkuasa di wilayah ini tahun 1889.

Saat Belanda masuk ke wilayah ini ada dua peristiwa penting yang mewarnai sejarah Gorontalo. Pertama, banyaknya warga masuk dan menetap di hutan dan wilayah terpencil karena enggan membayar pajak kepada Pemerintah Belanda. Keturunan orang-orang ini hingga kini masih berdiam di hutan dan wilayah terpencil, yang oleh warga Gorontalo dikenal dengan sebutan Polai.

Kedua, upaya penghapusan segala bentuk tradisi, adat, dan hal-hal terkait berkesenian atau kebudayaan yang ada pada masyarakat Gorontalo. Saat itu Belanda melihat kekuatan orang Gorontalo terletak pada adat, budaya, dan tradisi. Karena itu, dilaranglah berbagai aktivitas yang terkait dengan adat dan tradisi.

Sejarawan dari Universitas Negeri Gorontalo, Alim Niode, mengatakan, satu-satunya tradisi saat itu yang tidak berhasil dihilangkan oleh Belanda adalah Mokarawo.

Ini terjadi karena memang tradisi menyulam dilakukan perempuan di tempat tersembunyi di dalam rumah dan dilakukan dengan diam. Hingga Belanda meninggalkan Gorontalo, mereka tidak pernah tahu soal tradisi ini. Itu pula sebabnya mengapa catatan tentang karawo tidak pernah ditemukan dalam sejarah invasi Belanda di wilayah Gorontalo. ”Dengan kata lain, karawo adalah tradisi yang pernah menjadi silent culture di Gorontalo,” kata Alim Niode.

Hengkangnya Belanda tidak serta-merta membuat karawo keluar dari ”persembunyian”. Situasi saat itu dan trauma membuat tradisi mokarawo tetap dilakukan di dalam ruang tersembunyi.

Karawo mulai kembali muncul sekitar akhir tahun 1960-an, tapi belum merupakan produk yang dijual secara bebas seperti barang lain. Saat itu jika ada yang berminat pada karawo, mereka akan datang langsung ke penyulam dan memesan. Karawo kerap dibayar menggunakan uang, kerap pula dibarter dengan barang kebutuhan lain.

Pernah diselamatkan dari ancaman kepunahan saat agresi Belanda dan mengalami masa jaya, kini karawo kembali berada di bawah bayang-bayang kepunahan. Penyebabnya adalah kurangnya generasi muda yang berminat memakai karawo sebagai pakaian, apalagi sebagai penyulam.

Saat ini karawo umumnya dilakukan ibu rumah tangga yang menyebar di sejumlah wilayah di Gorontalo. Tercatat saat ini ada sekitar 10.000 ibu rumah tangga yang masih menekuni karawo.

Karawo adalah mata rantai yang melibatkan pengusaha atau pemilik toko, usaha sulam yang menghimpun kelompok-kelompok penyulam yang menyebar di berbagai tempat. Lalu ada pula ketua-ketua kelompok yang akan berhubungan langsung dengan penyulam, terkait pembagian kerja.

Kompas/Reny Sri Ayu
Sejumlah peserta mengenakan busana berbahan karawo pada Parade Karawo yang menjadi puncak Festival Karawo 2012 di Gorontalo, Munggu (9/12). Festival digelar untuk mengggugah minat orang pada Karawo, sekaligus menjadikan karawo sebagai identitasd Gorontalo

Di ambang punah

Sejumlah kegiatan untuk mempromosikan karawo, yang membuat sulaman unik dan rumit ini kembali naik daun, tak bisa menghapus keresahan akan bayang-bayang punahnya karawo. Perkembangan zaman, teknologi, dan maraknya beragam budaya asing yang dibawa berbagai media membuat penyulam-penyulam resah.

Keresahan antara lain dirasakan Hj Iko Mandai (55) yang sejak kecil sudah pandai menyulam dan kini menghimpun 260 perempuan penyulam. Menurut Iko, keberadaan televisi dengan beragam acara dan beragam teknologi komunikasi di antaranya telepon genggam, iPad, dan jejaring sosial telah merampas minat generasi muda dari tradisi menyulam.

Iko menuturkan, semasa kecilnya, anak-anak yang masih duduk di bangku SD umumnya sudah bisa membuat sulaman. Menyulam biasanya dilakukan sepulang sekolah di sela mengerjakan pekerjaan rumah.

”Sekarang, anak-anak muda lebih senang berada di mal, di warnet, main telepon, dan lainnya. Kalaupun diminta oleh orangtuanya untuk membantu, mereka akan menyulam di depan televisi dan akhirnya lebih banyak waktu yang habis untuk menonton atau sambil SMS-an, BBM-an, Facebook-an ketimbang menyulam. Bahkan, ibu- ibu pun kerap menyulam sambil nonton sehingga pekerjaan menjadi lambat,” kata Iko di rumah sulamnya di Kecamatan Telaha, Kabupaten Gorontalo.

Kalsum (31), penyulam lainnya, bercerita bagaimana siswa SD di sekitar rumahnya akan datang membawa kain dan meminta dibuatkan sulaman jika mereka mendapat tugas keterampilan, membuat karawo dari sekolah.

Kondisi ini membuat Iko kerap membawa pesanan karawo kepada penyulam-penyulam yang berdiam di desa terpencil atau pegunungan. Alasannya, penyulam di desa lebih cepat menyelesaikan pesanan karena tidak banyak gangguan.

”Kalau kami yang di gunung belum banyak gangguan. Tak ada listrik, tak ada televisi, telepon, tidak banyak kegiatan. Makanya kalau ada pesanan bisa lebih fokus mengerjakan setelah tugas rumah selesai,” ujar Ince (45), penyulam di Kecamatan Telaga Biru, Kabupaten Gorontalo.

Berbagai upaya dilakukan untuk mempromosikan sekaligus menaikkan gengsi karawo, termasuk pada generasi muda. Yus Iryanto Abbas, perancang busana, terus membuat rancangan yang mengikuti tren dengan bahan kain yang kian beragam. Adapun John Koraa, perancang motif karawo yang sudah menghabiskan lebih separuh hidupnya membuat rancangan motif karawo, juga terus bereksplorasi menciptakan motif-motif baru yang menarik.

Di instansi pemerintah swasta, berkarawo sekali sepekan dan di acara-acara tertentu sudah digalakkan. Adapun Bank Indonesia tak henti melakukan pendampingan kepada para penyulam, termasuk memberi pelatihan kepada anak-anak SMA.

”Kami berharap mendekatkan karawo kepada generasi muda. Bukan hanya menggugah minat memakai, tapi mau berkecimpung dalam industri karawo,” kata Wahyu Purnama, Kepala Bank Indonesia Perwakilan Gorontalo.

BI sejauh ini sudah melatih sekitar 500 anak dan remaja. Sebagai langkah awal tentu harus dibuat agar karawo enak dipandang, nyaman dipakai, dan dengan model terkini hingga orang akan lebih berminat.

Upaya tersebut layak diapresiasi sebagai upaya membangun benteng pertahanan karawo sebagai identitas budaya Gorontalo.

sumber: kompas

BACA JUGA:

Sepenggal Perjalanan Masa Silam di Boelongan

Rabu, 28 Januari 1942, lepas waktu dzuhur di Nagari Mandeh, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat. Anas Malin Randah yang ketika itu berusia remaja tengah bersantai di pondok perladangan di atas kawasan perbukitan.

Ayahnya masih menanam padi di ladang saat satu skuadron pesawat tempur Jepang seperti meraung-raung di atas kepalanya. ”Jumlahnya 12 pesawat,” kata Anas, yang kini berusia 83 tahun, pekan lalu. Tak lama berselang, bunyi bom bersahutan seperti hendak memecah gendang telinganya. Anas beserta tiga kakak dan seorang adiknya bergegas menuju ke goa batu untuk berlindung.

Anas masih mampu merekam jalannya serangan. Pesawat tempur Jepang itu membombardir kapal Belanda, yang diduga sebagai Boelongan. Serangan berlangsung sekitar tiga jam hingga sore menjelang. Delapan pesawat tempur baru menggantikan peran 12 pesawat sebelumnya. Serangan ditutup oleh enam pesawat berikutnya.

Kapal Boelongan tenggelam setelah dibom pada bagian haluan, buritan, dan persis di cerobong asapnya. Anas pun melihat sejumlah awak Boelongan yang meninggalkan kapal dengan sekoci.

”Orang Belanda itu kabur,” ujar Anas. Boelongan tenggelam dengan posisi mendatar. Seluruh badannya rusak parah.

Saat dibom, Boelongan pada posisi terbuka di Teluk Mandeh, yang jaraknya sekitar 200 meter dari daratan terdekat dan sekitar 70 kilometer dari Kota Padang. Kawasan ini merupakan salah satu rute pelayaran pantai barat Sumatera yang sangat ramai pada masa silam.

Anas ingat Boelongan berada di kawasan itu sejak sekitar sepekan sebelumnya. Boelongan mula-mula masuk dari pintu muara di Nagari Sungai Nyalo Mudik Aie yang bertetangga dengan Teluk Mandeh. Lalu, Boelongan berlindung di Teluk Dalam di antara Pulau Cubadak dan Pulau Taraju yang masih di kawasan perairan Mandeh.

Saat bersamaan, sekitar 350 km dari Teluk Mandeh, Jatar (87) tengah mengadu nasib di Aie Bangis, Kabupaten Pasaman Barat, Sumbar. Jatar yang juga berasal dari Nagari Mandeh memutuskan pulang setelah tahu pengeboman itu. Beberapa bulan kemudian, Jepang mencari pemuda di nagari itu. ”Sebagian dipekerjakan untuk membuat kapal di Nagari Sungai Pinang, Pesisir Selatan, dan sebagian dikirim ke Logas, Kabupaten Sijunjung, Sumbar,” paparnya.

Pengiriman ke Logas terkait kerja paksa membangun jaringan rel kereta api. Itu berhubungan dengan rencana pengangkutan batubara dari Ombilin, Sawahlunto ke Logas, sebelum dilanjutkan menuju Riau.

Ujung pelarian

Kisah Boelongan yang dimiliki Koninklijke Paketvaart-Maatschappij tak bisa dipisahkan dengan tenggelamnya kapal Van Imhoff II di sebelah barat Kepulauan Nias, Sumatera Utara, setelah dibom Jepang pada 19 Januari 1942. Kapal itu membawa 400 tawanan asal Jerman.

Horst H Geerken dalam buku berjudul A Magic Gecko: Peran CIA di Balik Jatuhnya Soekarno (2011) menjelaskan, pada 20 Januari 1942, Boelongan terlihat di lokasi tenggelamnya Van Imhoff II. Namun, karena yang tersisa hanya sekoci berisi tawanan Jerman, Boelongan yang berada di bawah kendali Kapten ML Berveling putar haluan tanpa memberikan pertolongan.

Keputusan Berveling diduga terkait peta Perang Dunia II saat Jerman tergabung dalam poros kekuatan bersama Jepang dan Italia. Di sisi lain, Belanda ikut kubu Sekutu yang di antaranya digerakkan Inggris dan Amerika Serikat. Sebelumnya, Jerman memorakporandakan Rotterdam di Belanda dengan pengeboman pada Mei 1940.

Boelongan yang berperan sebagai pengiring Van Imhoff diduga kembali ke selatan menuju Padang untuk terus ke pesisir selatan mengarah ke Batavia atau Australia. Ini terbukti dari posisi kapal itu saat tenggelam.

Pada penyelaman yang dilakukan Kompas, pekan lalu di lokasi tenggelamnya Boelongan, haluan bangkai kapal terlihat pada sisi barat daya. Adapun buritannya terletak di arah timur laut yang mengindikasikan kapal itu sedang menuju selatan.

Dinding kabin anjungan tampak rebah ke atas dek di kedalaman sekitar 20 meter. Menurut Kepala Subseksi Pelayanan Teknis Loka Penelitian Sumber Daya dan Kerentanan Pesisir Kementerian Kelautan dan Perikanan Nia Naelul Hasanah, kesimpulan bangkai kapal itu adalah Boelongan didasarkan pada pengukuran detail.

Panjang kapal diketahui 74 meter dengan lebar bagian tengah 11 meter, lebar buritan 13 meter, lebar haluan 10 meter, dan tinggi 8 meter. Tinggi kapal terukur belum mewakili ukuran sesungguhnya karena sebagian badan kapal terbenam sedimen.

Hasil pengukuran itu serupa dengan data spesifikasi Boelongan dalam sejumlah referensi. Kapal lain yang tenggelam di alur itu dalam periode yang sama, Buijskes dan Elout, memiliki dimensi lebih besar. Selain sebagai kapal transpor, kata Nia, Boelongan juga kerap dipakai pejabat kolonial Belanda saat berkunjung ke Kesultanan Bulungan di Kalimantan Timur.

Periode kritis

Sejarawan dari Universitas Negeri Padang, Prof Dr Mestika Zed, mengatakan, tenggelamnya Boelongan dan invasi Jepang itu menandai periode kritis kekuasaan Belanda di Indonesia. Serangan cepat Jepang tak disangka-sangka Belanda.

Periode Desember 1941-Februari 1942 ditandai dengan serangan udara yang dilakukan Jepang secara bertubi-tubi. Menurut Mestika, gempuran pesawat dengan pola bunuh diri seperti yang dilakukan Jepang terhadap Pangkalan Angkatan Laut Amerika Serikat Pearl Harbor, Hawaii, lazim dilakukan selama periode itu.

Hampir 71 tahun seusai Boelongan karam, warga di daerah sekitarnya cenderung tak beroleh manfaat. Padahal, dengan sejarah yang melingkupinya, kapal karam itu bisa menjadi obyek wisata dan obyek penelitian yang tak hanya bermanfaat bagi warga sekitar, tetapi juga bagi ilmu pengetahuan….

sumber: kompas

BACA JUGA

Mengembalikan Kejayaan Muna

Memelihara kuda pernah begitu lekat dengan kehidupan masyarakat di Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara, sebelum tenggelam seiring berputarnya zaman. Kini, oleh pemerintah setempat, kejayaan itu coba dibangkitkan dari tidur panjangnya. Secercah harapan mengembalikan kejayaan muda Muna.

Di Desa Latugho, Kecamatan Lawa, harapan itu dipupuk. Di desa yang berjarak sekitar 25 kilometer arah barat daya ibu kota Raha tersebut, sejumlah warga masih bersetia memelihara kuda. Hewan itu sehari-hari digunakan untuk mengangkut hasil perkebunan dan pertanian pemiliknya.

Pada momen tertentu, kuda jantan juga ditanggap untuk atraksi perkelahian kuda. Dari 33 kecamatan di Muna, hanya di Kecamatan Lawa pertunjukan perkelahian kuda yang menjadi ciri khas daerah itu masih bisa ditemukan.

Camat Lawa La Ode Saifuddin mengatakan, selain perkelahian kuda, kecamatan itu dulu juga terkenal dengan tradisi pacuan kuda. ”Ada arena pacuan kuda yang rutin menggelar balapan kuda tingkat kecamatan ataupun kabupaten,” ujar Saifuddin akhir Desember lalu.

Namun, ia menambahkan, semua itu berubah saat minat pacuan kuda mulai berkurang akhir 1980-an. ”Terus meredup sampai akhirnya hilang sama sekali dan arena pun ditutup,” katanya.

Balapan kuda pada masa itu sangat populer di Muna. Berbagai acara dan kompetisi pun digelar di banyak tempat. La Ode Abjina (42), pawang dan pemilik kuda di Latugho, merupakan salah satu joki jawara pada masa kejayaan pacuan kuda di Muna.

”Saya terakhir ikut pacuan pada tahun 1987,” kata Abjina. Ia menjadi joki kuda pacu sejak usia 12 tahun. Keahlian berkuda diperoleh dari sang ayah, La Ode Abdul Karim (73), pemilik sekaligus pawang kuda kawakan di Muna.

Selama kariernya, Abjina pernah menyabet tiga gelar juara berturut-turut di Kabupaten Muna. Beberapa acara di luar Muna juga pernah diikutinya, termasuk ajang pacuan kuda bergengsi di ibu kota Sulawesi Tenggara, Kendari.

Menghilang

Seiring berjalannya waktu, populasi kuda di Muna pun menyusut meski tersisa ratusan ekor saja. Paling banyak di Desa Latugho. Salah satu penyebab, minat memelihara kuda turun. Kondisi itu menyebabkan berbagai aktivitas yang sebelumnya melibatkan kuda perlahan turut menghilang.

Karim mengatakan, di Desa Latugho kini tinggal tersisa tiga orang yang memiliki kuda berjumlah total 40 ekor. Dia sendiri memiliki empat kuda jantan dan 16 kuda betina.

Kuda-kuda milik Karim itulah yang sekarang menjadi andalan jika ada yang ingin menggelar pertunjukan perkelahian kuda meskipun momen seperti itu jarang terjadi.

”Dulu sering digelar perkelahian kuda untuk acara-acara syukuran atau menyambut tamu,” kata Karim.

Abjina pun masih mengingat dulu kuda kerap digunakan dalam acara pernikahan untuk mengantar pengantin. Selain itu, kuda juga menjadi tunggangan wajib kala berburu kerbau atau sapi liar di hutan.

Dalam dimensi berbeda, kuda juga menjadi medium untuk menjalin silaturahim antar-pemilik. ”Setiap pemilik kuda, dulu kalau ditelusuri, pasti masih memiliki hubungan keluarga,” kata Abjina.

Ia menjelaskan hal itu tak terlepas dari sejarah kuda yang pada masa kerajaan hanya dimiliki kalangan terbatas, terutama bangsawan, yang kemudian mewariskan ke anak-cucunya.

 

Dibangkitkan

Karena penting dan lekat dalam kehidupan masyarakat, kuda dijadikan salah satu simbol pada lambang resmi Kabupaten Muna. Lambang tersebut menggambarkan dua kuda jantan yang tengah berkelahi.

Namun, pada 2002 lambang itu lalu digantikan pohon jati, ikon lain Kabupaten Muna. Penggantian lambang itu seolah menjadi klimaks lunturnya era kejayaan kuda di Muna.

Kini, kejayaan itu coba dibangkitkan kembali oleh pemerintah setempat. Atraksi perkelahian kuda pun diupayakan terus digelar pada momen-momen penting daerah, seperti hari jadi kabupaten.

Tonggak penting lainnya adalah dengan mengembalikan kuda sebagai lambang daerah Muna pada 2012. ”Namun, sekarang namanya bukan lagi kuda berkelahi, melainkan kuda berhadapan,” ujar Bupati Muna LM Baharuddin.

Baharuddin menjelaskan, maksud penggantian nama lambang dari ”kuda berkelahi” menjadi ”kuda berhadapan” adalah untuk menghindari kesan negatif yang mungkin muncul. ”Kalau kuda berkelahi, kesannya orang Muna suka perkelahian. Padahal, bukan itu maksud yang ingin disampaikan, melainkan makna yang diambil dari kuda berkelahi itu adalah tentang harga diri,” kata Baharuddin.

Guna menegaskan statusnya sebagai ikon daerah, Pemkab Muna juga berencana membangun patung raksasa kuda berkelahi pada 2013 ini. Patung berbahan tembaga itu nanti akan ditempatkan di titik strategis di ibu kota Raha.

Tak berhenti di aspek simbolis, Pemkab pun berupaya meningkatkan kualitas dan kuantitas populasi kuda di daerah. Pada 2012, Baharuddin mengatakan, pihaknya memberikan bantuan 15 kuda yang didatangkan dari Sumbawa kepada warga.

Selain untuk menambah populasi, hal itu juga dimaksudkan untuk memperbaiki keturunan kuda di Muna. Pasalnya, berdasarkan temuan Balai Penelitian Ternak, Bogor, pola perkawinan internal kuda di Muna selama ini membuat kualitas fisik kuda menurun. ”Tubuh kuda menjadi kecil,” kata Baharuddin.

Di Kecamatan Lawa, upaya mengembalikan kejayaan tradisi perkelahian kuda dan pacuan kuda juga tengah dirintis. Saifuddin memproyeksikan Desa Latugho menjadi pusat kedua aktivitas tersebut. ”Kami merencanakan membangun arena pacuan dan perkelahian kuda,” ujarnya.

Hal itu akan dikombinasikan dengan obyek wisata pemandian alam yang telah ada di Latugho sehingga desa itu nanti menjadi destinasi wisata andalan di Muna. Jika hal itu terwujud, perekonomian masyarakat sekitar diharapkan turut terangkat.

Saat ini, Saifuddin mengatakan, pihaknya tengah mencari lahan yang bisa dihibahkan untuk lokasi pacuan kuda dan arena perkelahian kuda di desa tersebut. Adapun untuk pembangunan sarana-prasarana, Saifuddin berharap ada bantuan dari Pemkab Muna.

Dari sisi daya tarik, antusiasme masyarakat untuk menyaksikan pertunjukan perkelahian kuda sebenarnya sangat tinggi, seperti yang terlihat saat atraksi itu digelar di Latugho, Desember lalu. Warga dari sejumlah tempat berdatangan memadati lokasi untuk menyaksikannya.

”Sebenarnya yang datang bisa jauh lebih banyak lagi kalau (acara) diumumkan. Tidak diumumkan seperti ini saja yang datang banyak,” kata Abjina.

Dari pengalamannya, pertunjukan perkelahian kuda selalu berhasil menyedot minat ratusan penonton.

Zaman boleh terus berputar, tetapi kuda akan selalu menemukan rumahnya di tanah Muna. Setidaknya ada secercah harapan dari pulau yang kaya akan batu karst itu….

sumber: kompas

BACA JUGA

Bendera Pengunjung

Flag Counter

TRANSLATOR

kalender

November 2017
M S S R K J S
« Agu    
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  

Ayo Gabung dengan yang lainnya
Masukan Alamat Email mu

Bergabunglah dengan 1.906 pengikut lainnya