Uncategorized

This category contains 20 posts

Acceptance Angle dengan Critical Angel Fiber Optic

Kali ini penulis ingin berbagi tugas fiber optik yang pernah dikerjakan oleh penulis, dibawah ini pertanyaannya:

1. Apa perbedaan antara Acceptance Angle dengan Critical Angel?

2. Cahaya dikatakan merambat lurus . mengapa pada graded index fiber cahanyanya tidak lurus?

3. Sebutkan Kelebihan dan Kekurangan dari tipe – tipe fiber optic!

siapa tahu teman -teman sekalian mendapat pertanyaan yang sama, silahkan download jawabannya disini

Terima Kasih

BACA JUGA:

Iklan

Parisadha Hindu Dunia atau World Hindu Parisadh

Dalam pertemuan tokoh Hindu dunia dalam acara bertajuk World Hindu Summit 2012 yang berlangsung di Denpasar pada 9-12 Juni 2012, Bali akhirnya dipilih oleh para peserta pertemuan sebagai pusat terbentuknya World Hindu Parisadh (WHP).

World Hindu Summit ditargetkan sudah terbentuk pada pertengahan 2013 mendatang setelah dalam pertemuan tiga hari berhasil melahirkan Piagam Bali atau Bali Charter.

Piagam ditandatangani 200 delegasi dari 15 negara ditambah tokoh-tokoh Hindu Indonesia. “Nama organisasi ini adalah Parisadha Hindu Dunia atau World Hindu Parisadh,” kata Ketua Panitia World Hindu Summit 2012 , Made Bakta yang juga Rektor Universitas Udayana.

“Dari Bali Chapter yang dihasilkan dalam pertemuan World Hindu Summit 2012 ini selanjutnya akan direalisasikan terbentuknya World Hindu Parisadha yang ditargetkan pada 2013,” kata Made Bakta lebih lanjut di Gedung Wiswa Sabha Kantor Gubernur Bali di Denpasar (11/6).

Menurut Bakta, World Hindu Parisadha nantinya akan mengambil peran menyatukan dan mengorganisasikan berbagai aktivitas spritual Hindu secara menyeluruh di dunia.

Selanjutnya mempromosikan nilai-nilai kemanusiaan yang ada dalam ajaran-ajaran suci Hindu dan juga yang masuk di dalam Satyam Shivam Sundaram, yakni kebenaran, kebijaksanaan, dan kesucian.

Setelah terbentuknya World Hindu Parisadh akan dilanjutkan pembentukan World Hindu Center di Denpasar. Lembaga ini selanjutnya merancang pertemuan tahunan World Hindu Parisadh yang penyelenggaraannya bersamaan dengan Pesta Kesenian Bali (PKB) setiap pertengahan Juni.

Untuk mewujudkan target terbentuknya lembaga Hindu tersebut, Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) kini telah membantuk panitia kerja beranggotakan 11 orang.

“Tim panitia kerja mulai besok (Selasa) akan akan langsung bekerja,” ujar Ketua Umum PHDI Sang Nyoman Suwisma.

Makna Hari Raya Saraswati

Hari Raya Saraswati bagi umat Hindu di Indonesia dirayakan setiap 210 hari sekali menurut kalender Jawa Bali, yakni pada setiap Saniscara Umanis Watugunung.

Arti Kata Sarasvati

Kata Sarasvati dalam bahasa Sanskerta dari urat kata Sr yang artinya mengalir. Sarasvati berarti aliran air yang melimpah menuju danau atau kolam.

Sarasvati dalam Veda

Di dalam RgVeda, Sarasvati dipuji dan dipuja lebih dari delapan puluh re atau mantra pujaan. Ia juga sering dihubungkan dengan pemujaan terhadap deva Visvedevah disamping juga dipuja bersamaan dengan Sarasvati.

Sarasvati dalam Susastra Hindu di Indonesia

Tentang Sarasvati di Indonesia telah dikaji oleh Dr. C. Hooykaas dalam bukunya Agama Tirtha, Five Studies in Hindu-Balinese Religion (1964) dan menggunakan acuan atau sumber kajian adalah tiga jenis naskah, yaitu: Stuti, Tutur dan Kakavin yang jumlahnya tidak terlalu banyak. Sarasvati di Bali dipuja dengan perantaraan stuti, stava atau stotra seperti halnya dengan menggunakan sarana banten (persembahan).

Apabila seorangpemangku melakukan pemujaan pada hari Sarasvati, ia mengucapkan dua bait mantra berikut :

Om Sarasvati namas tubhyam, varade kama rupini, siddhirambha karisyami, siddhir bhavantu mesada.

Pranamya sarya-devana ca, Paramatmanam eva ca, rupa siddhi prayukta ya,, Sarasvati (n) namamy aham.

(Sarasvati 1-2.)

Hanya Engkaulah yang menganugrahkan pengetahuan yang memberikan kebahagiaan. Engkau pula yang penuh keutamaan dan Engkaulah yang menjadikan segala yang ada.

Engkau sesungguhnya permata yang sangat mulia, Engkau keutamaan dari setiap istri yang mulia, Demikian pula tingkah laku seorang anak yang sangat mulia, karena kemuliaan-Mu pula semua yang mulia menyatu.

Om Sarasvati namotubhyam
varade kama rupini,
siddhirambha karisyami
siddhir bhavantu mesada
(Sarasvatistava I)

Om Hyang Vidhi dalam wujud-MU sebagai dewi Sarasvati, pemberi berkah, wujud kasih bagai seorang ibu sangat didambakan. Semogalah segala kegiatan yang hamba lakukan selalu berhasil atas karuniaMu
Pendahuluan

Berbagai usaha atau jalan yang terbentang bagi Umat Hindu untuk mendekatkan dirinya kepada Tuhan Yang Maha Esa. Demikian pula Tuhan Yang Maha Esa yang sesungguhnya tidak tergambarkan dalam alam pikiran manusia, untuk kepentingan Bhakti, Tuhan Yang Maha Esa digambarkan atau diwujudkan dalam alam pikiran dan materi sebagai Tuhan Yang Berpribadi (personal God). Berbagai aspek kekuasaan dan keagungan Tuhan Yang Maha Esa dipuja dan diagungkan serta dimohon karunia-Nya untuk keselamatan dan kesejahteraan umat manusia.

Makna Penggambaran Dewi Saraswati

Tubuh dan busana putih bersih dan berkilauan. Didalam Brahmavaivarta Purana dinyatakan bahwa warna putih merupakan simbolis dari salah satu Tri Guna, yaitu Sattva-gunatmika dalam kapasitasnya sebagai salah satu dari lima jenis Prakrti. Ilmu pengetahuan diidentikan dengan Sattvam-jnanam.

Caturbhuja : memiliki 4 tangan, memegang vina (sejenis gitar), pustaka (kitab suci dan sastra), aksamala (tasbih) dan kumbhaja (bunga teratai). Atribut ini melambangkan : vina (di tangan kanan depan) melambangkan Rta (hukum alam) dan saat alam tercipta muncul nadamelodi (nada – brahman) berupa Om. Suara Om adalah suara musik alam semesta atau musik angkasa. Aksamala (di tangan kanan belakang) melambangkan ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan dan tanpa keduanya ini manusaia tidak memiliki arti. kainnya yang putih menunjukkanbahwa ilmu itu selalu putih, emngingatkan kita terhadap nilai ilmu yang murni dan tidak tercela (Shakunthala, 1989: 38).

Vahana. sarasvati duduk diatas bunga teratai dengan kendaraan angsa atau merak. Angsa adalah sejenis unggas yang sangat cerdas dan dikatakan memiliki sifat kedewataan dan spiritual. Angsa yang gemulai mengingatkan kita terhadap kemampuannya membedakan sekam dengan biji-bijian dari kebenaran ilmu pengetahuan, seperti angsa mampu membedakan antara susu dengan air sebelum meminum yang pertama. Kendaraan yang lain adalh seekor burung merak yang melambangkan kebijaksanaan (Shakunthala, 1989 : 38)..
Penutup

Berdasarkan uraian-uraian diatas, maka Sarasvati di dalam Veda pada mulanya adalah dewi Sungai yang diyakini amat suci. Dalam perkembangan selanjutnya, Sarasvati adalah dewi Ucap, dewi yang memberikan inspirasi dan kahirnya ia dipuja sebagai dewi ilmu pengetahuan.

Perwujudan Dewi Saraswati sebagai dewi yang cantik bertangan empat dengan berbagai atribut yang dipegangnya mengandung makna simbolis bahwa Tuhan Yang Maha Esa adalah sumber ilmu-pengetahuan, sumber wahyu Tuhan Yang Maha Esa yang terhimpun dalam kitab suci Catur Veda dan lain-lain menunjukkan bahwa simbolis tersebut memiliki nilai yang sangat tinggi dengan latar belakang filosofis yang sangat dalam.

Demikian semoga Ida Sang Hyang Widhi senantiasa memberikan waranugrahanya berupa inspirasi, kejernihan pikiran serta kerahayuan yang didambakan oleh setiap orang.

Om Sarve sukhino bhavantu, sarve santu niramayah, sarve bhadrani pasyantu, ma kascid duhkh bhag bhavet.

Ya Tuhan Yang maha Esa, anugrahkanlah semoga semuanya memperoleh keselamatan dan kebahagiaan. Semoga semuanya memperoleh kedamaian. Semoga semuanya memperoleh keutamaan dan semuanya terbebas dari segala duka dan penderitaan.

Om Santih, Santih, Santih, Om.

Hikmah Perayaan Nyepi

Saat saya tulis artikel ini, saya sedang menikmati gerimis di sebuah lokasidi Denpasar, Bali. Karena tidak boleh menyalakan lampu, saya terpaksa mengetik dengan diterangi cahaya monitor laptop seadanya. Karena tidak boleh keluar rumah, maka saya pun mengerjakannya di dalam kamar saja. Ya, saya sedang menikmati hari penting umat Hindu di Bali, dan juga di Indonesia, hari raya Nyepi. Ini pertama kali saya berada di Bali saat Nyepi. Dan, mudah-mudahan bukan terakhir kali. Sebenarnya “suasana nyepi” bukan hal baru bagi saya karena di Pesantren selain di bulan Romadlon setidaknya dua kali seminggu kami mengadakan i’tikaf bersama. Semacam weekly retreat sebagai latihan rutin kami untuk madul konsultansi dan mendekatkan diri kepada ilahi. Dalam i’tikaf itu, untuk beberapa jam semua penghuni pesantren harus menangguhkan seluruh aktivitasnya. Mereka kudu hening berdiam diri di masjid dan coba menyatu dalam semayam orbit tauhid dengan tetirah wirid. Ini latihan “bermesraan” dengan Yang Maha Rahman. Tapi, tetap saja ada gangguan karena yang melakukannya hanya kami di pesantren. Sementara di luar komplek, aktivitas tetap ramai seperti biasa dan menghadirkan kebisingan luar biasa di telinga. Nah, dalam Nyepi ini ada yang berbeda ketika i’tikaf dilakukan orang satu pulau. Saya mendapatkan banyak findings dalam i’tikaf saya kali ini, di Bali, saat Nyepi. Nyepi sangat lekat dengan empat larangan atau pantangan. Tanpa pekerjaan (amati karya), tanpa menyalakan api (amati geni), tanpa melakukan perjalanan keluar rumah (amati lelungaan) dan tanpa hiburan (amati lelanguan). Empat tanpa itu lebih dikenal dengan istilah Catur Berata Penyepian. Pada hari itu umat Hindu secara khusyumelakukan tapa, berata, yoga, samadhi untuk menyimpulkan serta menilai Trikaya pribadi-pribadi di masa lampau. Mereka juga merencanakan Trikaya Parisudha, tigapedoman di masa depan. Tiga pedoman tersebut bertindak sesuai kayika (perbuatan), manacika (pikiran), dan wacika (perkataan). Sebuah proses “monev” suci dan perenungan hubungan pribadi-pribadi dengansang Pencipta. Meski menarik dikupas lebih dalam, tapibukan dalam konteks itu saya ingin berbagi

hasil perenungan. Dalam pengalaman pertama saya merasakan suasana Nyepi, potret yang saya ceritakan adalah manfaat substantif Nyepi terkait dengan hajat dan kualitas hidup manusia. Ketika Nyepi semua orang dilarang menyalakan lampu mulai dari pukul 06.00 sampai jam 06.00 hari berikutnya. Di sini Nyepi memberikan contoh bagaimana praktik menghemat energi, setidaknya selama satu hari penuh. Nyaris tidak ada pemakaian apalagi pemborosan energi. Alam pun seolah tahu hal ini dengan memberikan penerangan cahaya ribuan bintang dan pantulan sinar bulan. Saya belum menghitung rinci, tapi pastilah banyak energi dan dana bisa dihemat dariarangan ini. Ah, andai saja lebih banyak orang dan daerah melaksanakan ini. Berapa ribu kilowat listrik bisa dihemat dari praktik hidup sehat khas swadaya masyarakat. Di hari Nyepi semua orang dilarang keluar rumah apalagi berkendaraan di jalan. Meski ada pengecualian untuk orangsakit, tapi tetap saja ada manfaat besar di situ. Hitunglah berapa ribu liter bensin,m pertamax dan solar bisa disimpan setelah biasanya dihambur-hamburkan ribuan kendaraan di jalan. Juga saya bisa rasakan betapa nikmatnya udara penuh oksigen dan bebas dari polusi berbahaya gas buang ribuan kendaraan yang biasanya berlalu lalang. Suara bising kendaraan pun lenyap. Ah, andai saja hal ini lebih sering diselenggarakan. Sekali lagi, seandainya saja. Untuk menghormati Nyepi, juga ada larangan bunyi-bunyian dan pesta. Tidak seperti daerah lain, di Denpasar café dan diskotek begitu menjamur hampir disetiapkelurahan/banjar. Pada hari biasa, café di lokasi padat penduduk itu menyetel musik jedag-jedug semalam suntuk. Kebetulansaya tinggal di dekat café yang tiap malam disuguhi alunan ribut yang “membangunkan” saya untuk tahajjud. Yang berbeda, kali ini tidak hanya tahajjud saya bisa berlangsung lega. Tapi suaramusik dan suasana café yang biasanya riuh remang, saat itu betul-betul menghilang. Angin pun berdenting hening. Satu lagi

gangguan yang diatasi perayaan Nyepi,

polusi suara.

Di pagi hari saya disambut kicauan burung

menyanyikan chorus indah. Perkutut,

kutilang, prenjak, sampai kruwok

memainkan alat musik tiup dan nadanya

bersama-sama. Dari iramanya, kita bisa

mendengar mereka begitu menikmati

kebebasan berekspresi setelah berbulan-

bulan dibungkam kebisingan manusia.

Benar-benar riuh suara mereka tapi justru

menghadirkan harmoni alam yang syahdu.

Saat malam datang, saya jelang petang

diiringi suara kodok menyanyikan tetabuhan

berpadu remix musik etnik lengking suara

jangkrik. Mereka joged rapak gendang

sambil seolah berteriak lantang, “Aku juga

berhak atas bumi ini, wahai manusia”. Ya,

di saat manusia berantem tentang haknya,

di hari Nyepi, ada makhluk Tuhan selain

manusia mendapatkan haknya, animal

right-nya.

Selain sepi dari purwarupa suara,

kebanyakan orang juga tidak menyalakan

televisi selama Nyepi. Meski tidak ada

larangan khusus untuk itu, tapi “kesadaran”

untuk itu cukup tinggi. Hasilnya, ibu-ibu

tidak perlu lagi mendengar gosip murahan

infotainment yang bisa mengotori hati.

Konstituen tidak harus menerima suguhan

busa-busa lidah para politikus yang

menghiasi diskusi-diskusi penuh topeng itu.

Konsumen tidak perlu miris menonton

iklan-iklan hedonis nan bombastis. Anak-

anak juga aman dari tayangan kekerasan.

Keluarga terbebas dari sinetron mistik yang

membodohi logika dan pentas syahwat yang

mengumbar aurat. Meski sebentar, Nyepi

menawarkan obyektivitas tanpa bias.

Pasar, mall, dan toko-toko semuanya tutup.

Hari ini semua bibir yang biasanya

berbohong untuk meyakinkan pembeli,

berhenti merugikan pembeli. Kantor-kantor

birokrasi juga tutup. Hari ini aksi mark up

proyek berhenti. Aksi sogok menyogok yang

menjengkelkan seperti dalam iklan sebuah

rokok itu juga stop. Praktik korupsi hari ini

sementara jeda dari jadwal kerja.

Terminal bus, pelabuhan kapal dan bandar

udara juga tidak beroperasi. Hari ini tidak

ada penumpang ditipu calo dan dirugikan

akibat delay jadwal. Tempat rekreasi dan

hiburan semuanya libur. Hari ini pantai

melakoni gurah sampah.

Sebagai orang yang awam akan ajaran

Hindu, saya tidak tahu doa apa yang

dipanjatkan oleh dulur-dulur kita yang

sedang semedi di pura-pura maupun di

rumahnya. Tapi, saya yakin mereka berdoa

untuk kebaikan mereka dan bangsa ini.

Maka, untuk kebaikan pulalah saya

berusaha memanfaatkan betul keheningan

Nyepi ini untuk mendekatkan diri kepada

Tuhanku Allah Yang Maha Suci.

Hening, sepi dan suci adalah sebuah

suasana ideal untuk nguzla dan i’tikaf.

Sebagai Muslim saya tidak berhak ikut ritual

keagamaan Hindu. Tapi, Nyepi dalam

dimensi dan pemaknaan hakiki telah

melibatkan saya dan umat agama lain

dalam suasana religius yang harmoni.

Tentu ada hal-hal lain di balik yang saya

sebutkan tadi. Seperti anak-anak yang

membutuhkan penerangan lampu, tapi toh

ada pengecualian untuk mereka yang punya

bayi boleh menyalakan lampu. Orang sakit

yang membutuhkan pelayanan, toh ada

pengecualian rumah sakit tetap bisa

beroperasi.

Pekerja atau pedagang kecil yang

menggantungkan hidup dari penghasilan

harian, toh mereka bisa merencanakan

menyisihkan uang untuk sehari itu, jauh

hari sebelumnya. Demikian pula perjalanan

untuk kepentingan darurat, ada

pengecualian. Sehingga jikapun substansi

Nyepi dilaksanakan oleh lebih banyak

orang, tidak akan mengganggu kondisi-

kondisi khusus tadi.

Dari Nyepi kita bisa menemukan begitu

banyak dimensi manfaat yang lebih dari

sekedar ritual keagamaan. Seperti halnya

puasa dan i’tikaf dalam Islam, Nyepi yang

saya rasakan dalam tulisan ini adalah

sebuah suasana di mana semua orang

secara bersama-sama bersepakat

mengekang diri dan tidak melakukan hal-hal

yang dilarang. Semua demi kebaikan diri,

alam dan hubungan dengan Sang Pencipta.

Dalam Islam ada istilah amar ma’ruf atau

menyeru pada kebaikan dan nahi munkar

atau melarang berbuat kejahatan. Konon

amar ma’ruf lebih ringan daripada nahi

munkar, karena psikis seseorang ketika

disarankan berbuat baik lebih bisa

menerima daripada ketika dicegah berbuat

salah. Nah, dalam nyepi ini, semuanya

berupa nahi/larangan. Sehingga

tantangannya besar namun seimbang

dengan manfaat yang juga datang.

Ketika energi bisa dihemat, ketika polusi

bisa dibabat, ketika kelonggaran maksiat

bisa diperketat, ketika korupsi dan

manipulasi bisa dicegat, ketika Nyepi

memberi banyak manfaat, muncul

pertanyaan penuh harap dalam benak saya:

mungkinkah “perayaan penuh kesunyian”

ini lebih sering kita helat?

Jika saya di pesantren ada kegiatan rutin

“nyepi” seminggu dua kali yang kami sebut

renungan suci, maka bisalah kita berandai-

andai nyepi diadakan sebulan sekali di

negeri kita ini. Tidak saja oleh masyarakat

Bali tapi di seluruh tanah air kita tercinta.

Dengan niat, cara dan tujuan beragam

tergantung keyakinan masing-masing.

Asalkan tetap dalam koridor hening, sepi

dan penuh aturan mengekang diri. Meski

hanya sehari, saya rasa nyepi layak dijalani

demi ridlo Ilahi dan harmoni alam yang

sejati.

Kalau begitu, bisakah kita usulkan pada diri

kita dan para pemimpin negeri untuk

mencanangkan gerakan nasional nyepi

dalam bingkai kegiatan rutin “i’tikaf sebulan

sekali”. Mau? Berani?

Dikutip dari vivanews.com

Ramah Tamah

RAMAH TAMAH ANGKATAN 2011 PD KMHDI SULAWESI SELATAN

Tanjung Bunga – Villa City, 10-11 Maret 2012

Om Swastyastu

Kegiatan ramah tamah ini merupakan agenda tahunan PD KMHDI SulSel, dimana yang menjadi panitia dalam kegiatan ini adalah anggota angkatan 2011 sebagai angkatan termuda. Kegiatan ini juga merupakan kaderisasi yang bertujuan menjalin keakraban anggota baru dengan senior dan alumni, yang sebenarnya juga hasil follow up dari kegiatan MPAB dan DMO.

Ramah tamah ini dihadiri oleh anggota PD KMHDI SulSel dari beraneka ragam angkatan, senior, perwakilan dari Departemen Kaderisasi dan Organisasi Kanda Made Bawa dan Bapak Ketua Harian PHDI Prov. SulSel Bapak Nyoman Sumarya.

Dalam laporannya, ketua panitia Putu Darsana mengatakan kegiatan ini sebagai bukti sejauh mana solidaritas dan keseriusan angkatan 2011 untuk KMHDI terkhusus PD SulSel. Kegiatan ini juga mengambil tema “ SOLIDARITY IS POWER” yang diinginkan menjadi mempererat solidaritas seluruh anggota.

Selaku ketua PD KMHDI SulSel, Kanda Agung Putu Susilo dalam sambutannya mengatakan kegiatan ini tidak difungsikan sebagai kegiatan senang-senang tapi hendaknya betul – betul membangun solidaritas seperti tema kegiatan. Beliau juga berharap dihati para anggota dapat terbangun persahabatan dan solidaritas yang tinggi untuk berproses di KMHDI.

Bapak ketua PHDI Prov. Sulawesi Selatan yang memberikan sambutan sekaligus membuka acara ini, mengatakan cukup perihatin karena melihat begitu banyaknya mahasiswa Hindu namun masih sedikit yang tergolong aktif didalam organisasi- organisasi Hindu. Dan ini merupakan tantangan kami sebagai orang tua dan tantangan segenap pengurus KMHDI untuk menyelesaikan masalah itu. Beliau juga berkata, manfaat dari kegiatan – kegiatan mahasiswa sangat bermanfaat meskipun belum dirasakan pada saat ini, namun percaya bahwa ketika kita terjun di dunia kerja dan di dunia masyarakat social itu sangat- sangat bermanfaat.

Kegiatan ramah tamah kali ini sejak dari tahun 2003, merupakan ramah tamah yang pertama kalinya Ketua PHDI sebagai pemateri dan membawakan motivasi itulah sebabnya kegiatan ini begitu special bagi anggota PD KMHDI SulSel terlihat ketika diskusi dengan Ketua PHDI seluruh anggota begitu antusias bahkan keritikan, pujian, pertanyaan dan masukan datang dari berbagai sudut dalam ruangan 10 x 5 meter itu.

Kegiatan yang berlangsung dalam 1 malam 1 hari ini, diisi dengan kegiatan – kegiatan yang betul – betul menjalin keakrabab dengan semua anggota terlebih ketika mandi bersama di Pantai Angin Mamiri, semua anggota di ceburkan kelaut agar semua kebagian basah, begitu suka terlihat dari semua anggota.

Akhirnya tepat pada hari minggu pukul 12.30 Wita kegiatan ini ditutup oleh Ketua PD KMHDI SulSel, namun sebelumnya kanda Agung Putu Susilo mengharapkan kedepannya solidaritas di antar anggota betul- betul terbangun untuk mewujudkan PD KMHDI SulSel yang jaya dan aktif didalam kegiatan keumatan bersama Lembaga Hindu lainnya.

Om Santhi Santhi Santhi Om

Satyam Eva Jayate

DANA PUNIA MENURUT HINDU

Ajaran dana punia dijumpai dalam berbagai pustaka suci terutama bagian Smertinya, bahkan dalam Upanishad (Chandogya Upanishad) telah tercantum, pengamalan ajaran tersebut, secara traditional telah dilaksanakan oleh umatnya melalui kegiatan ritual keagamaan, praktek, dana punia selalu dikaitkan
Tujuan Pembangunan Nasional Indonesia adalah untuk mewujudkan masyarakat adil dan makmur, yang sejahtera lahir batin, yang searah dengan: tujuan agama Hindu yaitu Jagathita dan moksa. Bahwa sebagai akibat dari derasnya pembangunan nasional didasarkan tumbuhnya kemampuan umat yang lebih tinggi dan di lain pihak timbullah berbagai masalah yang perlu mendapat perhatian kita melalui dana punia itu.
Memotivasi umat Hindu untuk berdana punia terutama bagi yang mampu, kemudian secara berkoordinasi diarahkan untuk membantu mereka yang tidak mampu, adalah suatu hal yang sangat mulia untuk mewujudkan kesejahteraan sosial itu. Pengamalan ajaran dana punia yang secara tradisional dilaksanakan lewat ritual keagamaan dari kelembagaan adat, perlu diangkat ke permukaan, kemudian diarahkan kepada sasaran yang lebih luas.
Karena pentingnya dana punia dan penanaman kebiasaan berdana punia agar umat manusia bisa saling membantu kehidupan sesamanya. Sehingga tujuan nasional dapat terwujud begitu juga dengan tujuan agama. Oleh karena pentingnya hal tersebut maka terpirkanlah untuk menulis makalah ini, yang akan menjelaskan mengenai dana punia menurut ajaran Hindu.

silahkan klik disini untuk mendownload : KLIK DISINI Terima Kasih

Dharma Wacana ( Cinta Kasih )

CINTA KASIH
( Oleh: PUTU NOPA GUNAWAN)**
Om Swastyastu
Dewan juri yang saya hormati;
Dan Umat se-dharma sekalian yang saya hormati pula;
Hyang Widhi bersabda dalam Bhagavad Gita, XVIII. 65:
Man mana bhawo mad bhakto
Mad yaji mam namas kuru
Man evaisyasi satyam te
Pratijane priyo si me
Artinya:
Pusatkan pikiranmu kepada-Ku, jadilah bhakta-Ku,
Berkurbanlah untuk-Ku, dan sujudlah di hadapan-Ku,
Dengan demikian kau akan datang kepada-Ku,
Aku menjamin dikau dengan kebenaran-Ku
Umat se-Dharma yang saya hormati,
Membaca sloka tersebut, saya mengajak kita semua untuk menyatukan hati dan bersyukur kepada Hyang Widhi, karena atas limpahan kerahayuan dan keselamatan yang diberikan kepada kita semua. Sehingga kita dapat berkumpul di tempat yang kita sucikan ini, dalam rangka melaksanakan Utsawa Dharma Gita Provinsi Sulawesi Selatan.

Silahkan Klick Disini untuk mendowload : KLIK (dharmawacana)

Kiamat Menurut Hindu

Om Swastyastu

– Apakah Hindu mengenal konsep kiamat? Jika ya, Bagaimanakah konsep kiamat menurut agama Hindu?

– Kapan kiamat menurut Hindu?

– Bagaimana kita menyikapi jaman Kali saat ini?

Baiklah kita mencoba membahas kedua hal tsb satu per satu :

a. Kiamat menurut agama Hindu

Setelah dicuplik bagaimana kiamat menurut Suku Maya dan juga Ilmu Pengetahuan Modern sebelumnya, walaupun sebenarnya masih ada banyak lagi paham, golongan maupun agama yang memiliki konsep mengenai Kiamat ini. Pendapat atau pandangan tentang dunia kiamat itu dalam era demokrasi dewasa ini tentunya boleh-boleh saja. Yang patut dijelaskan, khususnya pada kesempatan yang berbahagia ini adalah, bagaimanakah pandangan Hindu tentang dunia kiamat ini.

Semua ciptaan Tuhan ditata berdasarkan hukum utpati (tercipta), sthiti (hidup terpelihara) dan pralina (lenyap kembali kepada asalnya). Alam dan isinya ini, setelah masanya selesai beredar dan berputar-putar, akan pralina atau pralaya.

Istilah kiamat memang tidak dijumpai dalam ajaran Hindu, karena memang itu bukan bahasa Sansekerta, bahasa yang dipakai dalam ajaran Hindu. Namun, yang sejajar dengan konsep kiamat adalah konsep pralina atau pralaya yang ada dalam kitab-kitab Purana. Dalam kitab-kitab Purana, utpati, sthiti dan pralina dibahas secara khusus. Memang terdapat sedikit perbedaan antara Purana satu dan Purana lainnya mengenai konsep ini. Namun, secara umum menyangkut hal-hal yang substansial tentang pralaya, semua Purana isinya sama, bahwa semua ciptaan Tuhan ini kena hukum TRI KONA yaitu utpati, sthiti dan pralina itu.

Empat Konsep Pralaya

Konsep pralaya dalam Wisnu dan Brahma Purana ada dinyatakan empat konsep pralaya yaitu:

* Nitya Pralaya yaitu proses kematian yang terjadi setiap hari dari semua makhluk hidup. Bahkan dalam diri manusia pun setiap detik ada sel tubuhnya yang mati dan diganti dengan sel baru. Sel tubuh manusia terjadi utpati, sthiti dan pralina.

*Naimitika pralaya adalah pralaya yang terjadi dalam satu periode manu. Menurut pandangan ini akan terjadi pralaya terbatas dalam setiap akhir manwantara. Ini artinya akan terjadi 14 kali naimitika pralaya atau kiamat terbatas atau kehancuran alam secara terbatas.

* Prakrtika Pralaya yaitu terjadinya pralaya secara total setelah manwantara ke-14. Saat terjadinya Prakrtika Pralaya, seluruh alam semesta beserta isinya lenyap dan kembali pada Brahman atau Tuhan Yang Mahaesa dalam waktu yang panjang atau satu malamnya Brahma. Setelah itu akan terjadi penciptaan lagi dan memulai dengan manwantara pertama lagi. Prakrtika Pralaya inilah yang mungkin identik dengan konsep kiamat menurut kepercayaan lainnya. Karena, semua unsur alam dengan segala isinya kembali pada Brahman. Menurut keyakinan Hindu, hanya Tuhanlah yang kekal abadi. Tapi gambaran dan keadaan mahapralaya sangat berbeda dengan gambaran dan keadaan hari Kiamat. Hari Kiamat digambarkan sebagai kehancuran dasyat yang membawa siksa dan penderitaan tiada taranya bagi manusia. Mahapralaya digambar dengan sangat berbeda: Brahman adalah kebahagian; sebab dari kebahagiaan semua mahluk hidup, dalam kebahagiaan mereka semua hidup, dan ke dalam kebahagiaan mereka semua kembali”!. (Tattiriya Upanishad). Seperti seorang meninggal dengan tenang pada usia tua.

* Atyantika Pralaya yaitu pralaya yang disebabkan oleh kemampuan spiritualnya melalui suatu pemberdayaan jnana yang amat kuat sehingga seluruh dirinya masuk secara utuh lahir batin kepada Tuhan Brahman.

b. Kapan Pralaya menurut Hindu?

Dalam kitab Brahma Purana, dinyatakan satu hari Brahman (satu kalpa) atau satu siang dan satu malamnya Tuhan lamanya 14 manwantara. Satu manwantara = 71 maha yuga. Satu maha yuga = empat zaman yaitu kerta, treta, dwapara dan kali yuga. Satu maha yuga = 4,32 juta tahun manusia.

Sekarang peredaran alam semesta sedang berada pada manwantara ketujuh dibawah pimpinan Vaivasvata Manu. Ini artinya pralaya atau kiamat total akan terjadi setelah manu ke-14 berakhir (14×71×10000×432=4.294.800.000 tahun manusia). Manu ke-14 adalah Suci sebagai Indra Savarni Manu.

Ada 2 sisi yang kontradiktif antara ilmu pengetahuan dengan agama. Agama : Believing is Seeing (percaya dulu baru bisa melihat), Science : Seeing is Believing (melihat dulu baru bisa percaya). Oleh karena itu, semua dikembalikan pada kita, karena semua perhitungan di atas diluar kemampuan manusia.

Demikianlah konsep pralaya (semacam kiamat) menurut Hindu. Yakinlah, pralaya dalam arti Prakrtika Pralaya tidak akan terjadi dalam waktu dekat ini, apalagi dinyatakan akhir tahun ini atau 21-12 tahun 2012 mendatang. Sedangkan Nitya Pralaya akan terjadi dalam setiap hari, ada makhluk hidup yang mati dan ada yang lahir.

c. Bagaimana menyikapi jaman Kali?

Lalu, jika memang kiamat itu akan datang, baik dalam waktu dekat ataupun kapan pun datangnya, apakah kita harus khawatir?

Jawabnya adalah : TIDAK. Mengapa?

Dalam Bhagavadgita 4.7 disampaikan :

yada yada hi dharmasya

glanir bhavati bharata

abhyutthanam adharmasya

tadatmanam srjam y aham

Kapanpun dan dimanapun pelaksanaan dharma merosot dan hal-hal yang bertentangan dengan dharma merajalela, pada waktu itulah Aku (Tuhan) sendiri turun untuk menegakkannya kembali”

Jadi disana jelas disebutkan bahwa Tuhan akan turun (mengambil wujud ) setiap terjadi kemerosotan Dharma , kondisi ini akan terjadi terus menerus tidak berhenti pada suatu titik tapi terus terjadi sesuai dengan siklus waktu.

Dalam Bhagavata Purana (1.1.10) disampaikan

präyeëälpäyuñaù sabhya

kaläv asmin yuge janäù

mandäù sumanda-matayo

manda-bhägyä hy upadrutäù

“Wahai orang-orang yang terpelajar,

dalam jaman Kali, atau jaman besi,

umur manusia sangat pendek.

Mereka suka bertengkar, malas, mudah

disesatkan (salah pimpin), bernasib

malang, dan diatas segala-galanya,

mereka selalu gelisah.”

Berikutnya kami kutipkan dari Manawa Dharmasastra, I.86

Tapah param krta yuge

Tretayam jnanamuscyate.

Dwapare yajnaewahur

Danamekam kalau yuge.

Artinya: Pada zaman Kerta Yuga, dengan bertapalah cara beragama yang paling utama. Zaman Treta Yuga, beragama dengan mengamalkan ilmu pengetahuan suci (jnana) itulah yang paling utama. Zaman Dwapara, yadnya-lah yang paling utama. Sedangkan pada zaman Kali Yuga, dana punia-lah cara beragama yang paling utama.

Untuk menyelamatkan diri dari pengaruh buruk pada setiap perjalanan yuga itu, Swami Satya Narayana menyatakan agar manusia berperilaku seperti zaman atau mengikuti yuga sebelumnya. Misalnya, pada zaman treta, Sri Rama dan para pengikutnya berperilaku mengikuti zaman kerta yuga meskipun Sri Rama hidup pada zaman treta yuga. Sedangkan Rahwana berperilaku seperti zaman kali. Karena itu, Sri Rama dengan pengikutnya selamat hidup di bawah lindungan dharma dan Rahwana hancur karena hidup berdasarkan adharma.

Demikian juga Pandawa dengan Sri Krisna hidup pada zaman dwapara yuga, tetapi perilakunya mengikuti zaman kerta dan treta yuga. Dengan demikian Pandawa dan Sri Krisna memenangkan hidup berdasarkan dharma, sedangkan Korawa hancur karena mengikuti cara hidup yang adharma.

Demikianlah kini, kalau ingin selamat dari pengaruh zaman kali, hiduplah seperti zaman dwapara. Bahkan kalau bisa, ikuti treta atau kerta, maka akan selamatlah dari pengaruh buruk zaman kali. Justru pengaruh baiknya yang akan didapatkan.

Kesimpulan :

– Dalam agama Hindu dikenal konsep Pralina atau Pralaya yang dibagi dalam 4 konsep, yaitu : Nitya, Naimitika, Prakrtika dan Atyantika Pralaya.

– Untuk Prakrtika Pralaya (semacam kiamat) akan terjadi setelah manvantara ke-14 (4,294 milyar tahun), sementara kita saat ini berada pada manvantara ke-7.

Di jaman Kali ini, kita harus mengutamakan sikap/perilaku di jaman Dwapara (beryadnya) dan jika memungkinkan mengikuti Treta Yuga (jnana) atau Kerta Yuga (tapa), untuk menyelamatkan diri dari pengaruh buruk pada setiap perjalanan yuga. Mudah-mudahan apa yang kami sampaikan ada manfaatnya dan sebagai penutup, ijinkan kami menyampaikan Parama Shanti :

Om Shanti, Shanti, Shanti Om.

sumber: http://filsafat.kompasiana.com/2009/12/21/kiamat-menurut-hindu/

 

Tujuan ke-Sepuluh Avatar Vishnu Turun ke Bumi

Tujuan ke-Sepuluh Avatar Vishnu Turun ke Bumi

Oleh : Ni Gusti Ayu Nyoman Sukarini, SPd.

Avatarana berarti turun. Avatara adalah turunnya Tuhan yang tidak memiliki nama dan sifat dalam suatu wujud yang sesuai untuk melaksanakan tugas untuk menghancurkan yang jahat dan melindungi yang baik.

Avatara banyak jumlahnya. Ada beberapa Avatara yang muncul di bumi hanya untuk waktu yang singkat, memenuhi tugas Avatara dan menghilang. Matsya, Kurma, Narasimha, dan Vamana (Ikan, Kura-kura, Babi, setengah Manusia setengah Singa, orang Kerdil). Ada Avatara Rama yang disebut Amsaavatara, karena ia membagi sifat Ketuhanan dengan tiga saudaranya. Krishnavatara adalah sebuah contoh dan Pumaavatara (total).

Tujuan munculnya Matsyaavatara adalah menyelamatkan Veda dari tangan raksasa Somakaasura yang mencurinya dari Brahma dan menyembunyikannya di laut. Dharma didasarkan pada Veda tersebut, sehingga perlindungan terhadap Veda merupakan tugas Avatara.

Para dewa dan raksasa ingin mendapatkan Amrta (Air Keabadian) yang akan memberi keabadian dan memohon kepada Narayana. Narayana memerintahkan mereka untuk mengaduk lautan susu dengan Gunung Mandara sebagai batang pengaduk dan ular Vasuki sebagai talinya. Ketika gunung tersebut hampir terendam dalam lautan seraya menciptakan banjir yang besar, Narayana mengambil wujud seekor kura-kura dan menahan gunung tersebut di atas punggungnya. Sementara para dewa dan raksasa sedang mengaduk, racun keluar dari lautan tersebut, baik para dewa maupun raksasa menjadi panik. Kemudian Siva datang dan menelan racun tersebut. Beberapa benda muncul dari lautan itu, baik yang hidup maupun mati. Ketika akhirnya Amrta dibawa oleh makhluk sorga, para dewa dan raksasa bertarung untuk memiliki Amrta tersebut. Kemudian Narayana harus mengambil wujud seorang wanita kahyangan yang cantik untuk membagikan Amrta tersebut. Tentu saja para raksasa kehilangan bagian mereka, karena jika para raksasa hidup abadi betapa kehancuran yang akan terjadi. Jadi tujuan dari Avatara Kura-kura tersebut adalah untuk melindungi yang baik dan memberi keabadian kepada para dewa.

Narayana mengambil wujud seekor babi hutan jantan untuk membawa bumi yang telah tenggelam ke dasar laut kembali ke permukaan. Ketika Babi hutan jantan tersebut sedang mengangkat bumi di atas taring-taringnya dan masih berada dalam air, raksasa Hiranyaksa menyerangnya. Tetapi Babi hutan jantan tersebut mencakarnya dan menyerangnya hingga tewas. Jadi tujuan Varaha Avatara (Bahi hutan) adalah untuk mengembalikan keselamatan bumi dan memancangkannya dengan kuat di tempatnya.

Narayana harus mengambil wujud setengah singa setengah manusia untuk membunuh raksasa Hiranyakasipu. Hiranyakasipu bertekad untuk membalas dendam pada Narayana karena Beliau telah membunuh saudaranya, Hiranyaksa. Hiranyakasipu melakukan penebusan dosa pada Brahma dan mendapatkan anugerah, sehingga ia tidak akan mati di tangan makhluk apa pun yang diciptakan oleh Brahma. Kematian tidak akan terjadi padanya, baik siang atau malam, baik di darat atau di air ataupun di langit oleh senjata apa pun, di dalam atau di luar. Hiranyakasipu bertambah kuat dan angkuh setelah mendapatkan anugerah tersebut. Anaknya adalah pendukung Hari yang setia (sebutan Vishnu). Sang ayah berusaha keras memintanya agar jangan berdoa kepada Hari tetapi sia-sia. Ia juga menyiksa anaknya, namun Prahlada tidak akan berhenti menyanyikan nama Hari. Akhirnya Hiranyakasipu harus menantang anaknya untuk menunjukkan Hari yang dikatakan ada di mana-mana dalam sebuab tiang (salah satu tiang penyangga emper rumah). Ia memukul tiang tersebut. Tiang itu terbelah menjadi dua. Tuhan dalam wujud Nara-Shima (manusia-singa) muncul dan mencabik-cabik dengan cakarnya. Tujuan utama dari Avatara ini adalah untuk membuktikan kepercayaan bakta-Nya tentang kemahaadaan Tuhan.

Ketika Maharaja raksasa Bali menguasai segalanya dan ingin menguasai ketiga dunia, Narayana memutuskan untuk mengendalikan kesombongan Bali akan kekuatannya. Maka Narayana mengambil wujud menjadi seorang pemuda Brahmana ilahi dan mendekati Bali ketika ia sedang melakukan Visvajita Yaga. Beliau meminta hadiah tiga jengkal tanah dari Bali. Bali setuju, bahkan ketika gurunya, Sukraacarya memperingatkan Bali untuk tidak mengabulkan karena pemuda Brahmana tersebut tak lain adalah Hari yang datang untuk menghancurkannya.

Vamana Avatar kemudian berubah menjadi sangat tinggi, sehingga dengan satu kaki ia menutupi bumi, dengan kaki lainnya ia menutupi langit dan bertanya di mana seharusnya ia meletakkan kakinya yang ketiga. Kemudian Maharaja Bali menekukkan kepalanya dan meminta-Nya untuk meletakkan kaki-Nya pada kepala sang raja sendiri. Hari menekan Bali ke dunia bawah. Maharaja Bali sama sekali tidak sedih atau menyesal karena ia memiliki hak atas pemberian hadiah kepada sang penguasa tiga dunia. Sri Hari dengan sengaja melakukan ini hanya untuk menyatakan pada dunia penyerahan Bali secara total kepada Tuhan. Hal ini benar-benar aneh untuk memahami cara-cara Tuhan. Beliau kelihatan menghukum seseorang, tetapi hukuman tersebut hanya untuk penebusan yang dihukum.

Parasurama adalah putra Renuka dengan Rsi Jamadagni. Mereka memiliki Sapi Kahyangan pemenuh keinginan, Kamadhenu. Suatu hari Kartaviryaarjuna, penguasa daerah tersebut mengunjungi ashram itu setelah berburu. Sang Rsi menerima maharaja dan rombongannya, menjamu selayaknya dengan bantuan Sapi Kahyangan tersebut. Viryaarjuna menjadi irihati dan menggiring sapi serta anaknya tanpa memperdulikan perasaan Sang Rsi. Ketika rombongan tersebut meneruskan perjalanan, Parasurama mendekati dan menyerang mereka. Setelah pertarungan sengit, Parasurama memenggal kepala maharaja tersebut; kemudian anak-anak sang Maharaja memenggal kepala Rsi Jamadagni di saat Parasurama tidak ada di pertapaan. Mendengar teriakan keras ibunya, Parasurama kembali hanya untuk melihat kepala ayahnya di tanah. Dengan sangat marah ia menyerang Kota Mahismati dan membunuh keseratus anak Kartaviryaarjuna. Ia bersumpah akan membasmi keberadaan kaum ksatriya tersebut. Tujuan dari Avatara ini adalah untuk memperingatkan dan menghukum para penguasa sombong yang tidak memberi hormat pada para Rsi.

Narayana (Rama) lahir sebagai anak Dasaratha dan membagi kehebatan-Nya dengan tiga saudara-Nya. Tujuan dan Avatara bukan hanya untuk menghancurkan yang jahat dan melindungi yang baik, tetapi untuk memberi contoh ke seluruh dunia, bagaimana manusia seharusnya menjalankan kebenaran dan kebajikan dalam hidup. Ia benar-benar merupakan wujud dari Sathya dan Dharma.

Krishna Avatara adalah Avatara cinta kasih dan kedamaian. Tugas-Nya adalah untuk melindungi yang baik dan menghukum yang jahat.Tetapi tugas utama-Nya adalah untuk menyampaikan ajaran-ajaran hidup melalui Bhagavad Gita. Melalui contohnya, Buddha membuktikan bahwa setiap manusia dapat mencapai keadaan Buddha, orang yang senantiasa mendapat penerangan-penerangan dengan mengikuti delapan macam jalan. Ajaran utama-Nya adalah untuk menaklukkan keinginan dan menerapkan cinta serta kasih sayang.

[Raditya 162 – Januari 2011].

MPLEMENTASI DHARMA DALAM ERA KALI YUGA

IMPLEMENTASI DHARMA DALAM ERA KALI YUGA

Jiwantani mrtavan – manye
dehinam dharma – varjitam
yato dharmena samyukto
dirgha-jivi na samsayah”

(Niti Sastra XIII. 9)

Artinya : “Orang yang perbuatannya tidak sesuai dengan dharma, sebenarnya
ia sudah mati, walaupun masih hidup. Seorang dharmaatma, yaitu orang yang perbuatannya sepenuhnya sesuai dengan dharma, sebenarnya ia masih hidup, walaupun ia sudah mati”.

Dharma secara umum didefinisikan sebagai kebajikan (virtue), kewajiban (duty) dan agama (religion). Dalam Santi Parwa, Rsi Bisma memberikan wejangan kepada Yudisthira, bahwa apapun yang menimbulkan pertentangan adalah adharma, dan apapun yang menyudahi pertentangan dan membawa pada kesatuan, keharmonisan dan keselarasan adalah dharma. Segala aktivitas manusia yang menimbulkan perselisihan, keretakan, ketidak selarasan dan menimbulkan kebencian adalah adharma. Segala upaya manusia yang membantu untuk menyatukan segalanya, mengembangkan cinta kasih kepada Tuhan dan persaudaraan universal adalah dharma. Dharma merupakan penuntun menuju jalan kesempurnaan, penolong untuk penyatuan langsung dengan Tuhan, sadhana untuk mencapai sifat-sifat ilahi dan merupakan jantung etika/susila Hindu. Rsi Kanada dalam waisesika sutranya menyebutkan:

Ya to bhyudayaniksreyasa siddhih so dharmah”. “Yang menuntun untuk pencapaian kemakmuran di dunia, penghentian total dari derita dan pencapaian abadi setelahnya, adalah dharma”.

Empat Macam Dharma
Salah satu dimensi dari kehidupan adalah adanya interaksi antara harapan/cita-cita dengan kerja. Hidup tanpa cita-cita sama dengan mati. Sedangkan cita-cita tanpa kerja hanyalah sebuah mimpi. Hidup adalah sebuah kerja sesuai dengan swadharma masing-masing. Dalam pengertian dharma sebagai kewajiban (duty), ada empat jenis dharma yang dijadikan landasan dalam kehidupan.

Pertama, Asrama Dharma, merupakan kewajiban hidup sesuai dengan tahapan kehidupan manusia yang dikenal dengan catur asrama. Dalam kaitan dengan tujuan hidup untuk mewujudkan Catur Purusa Artha, maka kewajiban manusia yang termasuk dalam Asrama Dharma ini, mempunyai kaitan yang erat. Pada tingkatan Brahmacari Asrama, kewajiban manusia lebih difokuskan pada pengisian /penguasaan ilmu pengetahuan (jnana), baik pengetahuan keduniawian (Aparawidya) maupun pengetahuan kerohanian (Parawidya). Pada tahap Grhasta Asrama, kewajiban hidup lebih diprioritaskan untuk pemenuhan Artha dan Kama yang berlandaskan atas dharma. Sedangkan pada tahapan Wanaprastha dan Sanyasa, kewajiban hidup lebih dititikberatkan kepada pencapaian kelepasan atau Moksha.
Kedua, Warna Dharma, merupakan kewajiban hidup yang berdasarkan atas guna (sifat) / keahlian) dan karma (perbuatan/ kerja). Brahmana warna,mereka yang ahli dalam bidang spritual keagamaan. Ksatria warna, mereka yang ahli dan bekerja dalam bidang sosial ekonomi/ wiraswasta. sedangkan Sudra warna, mereka yang melakukan kewajibannya /bekerja lebih banyak menggunakan tenaga phisik dalam melayani ketiga wama lainnya (Brahmana, Ksatria, dan waisya).

Ketiga, sadharana dharma, merupakan kewjiban umum yang harus dilakukan oleh setiap insan, tanpa memandang asrama maupun warna. kewjiban umum itu antara lain menghormati sesama, kasih sayang (prema) antar sesama dan kepada semua makhluk, pelayanan yang tulus (sewa), pengorbanan, tolong-menolong dan yang lain.

Keempat, Yuga Dharma, merupakan kewajiban manusia yang disesuaikan / dipengaruhi oleh peredaran jaman (yuga). Dalam falsafah Hindu dikenal adanya empat tahapan jaman (Yuga), yaitu Satya Yuga, Treta Yuga, Dwapara Yuga dan Kali Yuga.

Dalam Slokantara disebutkan:
“Pada jaman Satya Yuga tapabratalah yang diutamakan, pada jaman Treta Yuga pengetahuan yang diutamakan. Di jaman Dwapara Yuga upacara kurban (yadnya) yang diutamakan, dan di jaman Kali Yuga hanya kebendaan yang diutamakan”
(S.81.65).

Dalam Tirthayatra Parwa, yang merupakan bagian dari wana Parwa (salah satu parwa diantara delapan belas parwa dalam Mahabaratha) dikisahkan pertemuan antara Bima dengan Hanuman di lembah Gunung Gandhamadana. Dalam pertemuan tersebut, Hanoman memaparkan panjang lebar tentang perwatakan manusia, keadaan alam, pada tiap-tiap yuga dan Catur Yuga. Pada jaman satya Yuga kewajiban masing-masing warna dalam catur warna dilaksanakan dengan semestinya, ajeg, dan dilandasi oleh kebajikan yang utuh. selama Yuga ini tidak ada penyakit, kerusakan, dendam/kebencian, keangkuhan, kemunafikan, kelicikan, ketakutan, kesengsaraan, iri hati dan tidak ada keserakahan.

Pada jaman Satya Yuga dikiaskan Hyang Narayana (Tuhan Yang Maha Esa) berbusana warna putih. Pada jaman Treta Yuga, dharma (kebajikan) surut seperempat bagian, persepsi tentang kebenaran mulai beragam. Kemampuan intelektual (jnana dan wijnana) mendapat tempat yang terhormat pada jaman ini. Tokoh-tokoh Upanisad seperti; Yadnavalkya, Uddalaka Aruni, Nachiheta, Swetaketu dikisahka hidup pada jaman ini Hyang Narayana ( Tuhan Yang Maha Esa) dikiaskan menggunakan busana warna merah. Pada jaman Dwapara Yuga, dharma (kebajikan) surut setengah bagian. Hyang Narayana dikiaskan menggunakan busana kuning. Kemampuan untuk memahami/mendalami Weda mulai berkurang. Sifat-sifat yang dibalut oleh rajah dan tamah mulai merasuki kehidupan manusia. Bentuk-bentuk dan sarana pemujaan berkembang pada jaman ini. Jaman Dwapara Yuga merupakan era Itihasa/sejarah kehidupan Rama pada epos Ramayana dan Krishna pada epos Mahabarata, dimana Rama dan Krishna merupakan Awatara Wisnu yang ditugaskan untuk menumpas adharma di dunia. Di jaman Kali Yuga, kebajikan (dharma) hanya tinggal seperempat bagian. Hyang Narayana dikiaskan menggunakan busana hitam. Berbagai jenis penyakit, bencana alam bermunculan pada jaman ini. Catur Warna tidak lagi menjalankan kewajiban-kewajiban sebagaimana yang ditetapkan. Upacara, dana punya, tapa berata tidak patut dijalankan lagi. Sifat-sifat buruk yang ditimbulkan oleh guna rajah dan tamah mencapai puncaknya pada jaman ini.

Dharma dan Kali Yuga
Kali Yuga adalah jaman (yuga), dimana kita umat manusia sekarang berada. Menurut Prof. Sir Monier Williams,MA,KOIE, pakar dan Guru Besar bahasa Sanskerta, Kali Yuga telah mulai tepat tengah malam antara tanggal 17 dan 18 Pebruari 3102 Sebelum Masehi (bertepatan dengan penobatan raja Pariksit, cucu Arjuna). Bila dihitung sejak tanggal 18 Juni 1996 yang lalu, Kali Yuga telah dijalani oleh umat manusia selama 5098 tahun lebih 4 (empat) bulan. Dalam Manawa Dharmasatra (I. 64-73) dan Bagawadgita (VIII.17) diulas mengenai lamanya masing-masing jaman (yuga) dalam Catur Yuga.

Satya Yuga lamanya/berusia 1.728.000 tahun, Treta Yuga 1.296.000 tahun, Dwapara Yuga 864.000 tahun, dan Kali Yuga berusia/lamanya 432.000 tahun. Usia /lamanya seluruh Yuga adalah 4.320.000 tahun, dan disebut satu kalpa. Dengan demikian jarnan Kali Yuga masih tersisa kurang lebih 426.902 tahun. Suatu rentang/kurun waktu yang cukup panjang. Sebagaimana disebutkan sebelumnya, bahwa pada jaman Kali Yuga, dharma / kebajikan hanya tinggal seperempat bagiannya. Hal ini merupakan suatu hal yang tidak bisa dihindari / ditolak. Kita umat manusia yang hidup di jaman ini hanya bisa berupaya memperkecil /meminimalkan pengaruh – pengaruh buruk yang di bawa oleh Kali Yuga. Rsi Bhisma yang beralaskan/berbantalkan ratusan anak panah, sambil menantikan ajalnya tiba saat gerakan matahari ngutarayana (berbalik ke utara), dalam Anusasana Parwa, beliau tidak henti-hentinya memberikan wejangan kepada Panca Pandawa, khususnya kepada Yudhistira yang akan memegang tampuk pemerintahan di Astinapura.

Khususnya mengenai Kali Yuga beliau mengatakan:
“Cucuku Yudhistira, tidak seorang manusia pun akan mampu melepaskan diri sama sekali dari pengaruh Yuga ini. Hanya dengan pengetahuan dharmalah yang akan mampu sedikit melepaskan diri dari pengaruh tiap-tiap Yuga. Setelah jaman Dwapana sekarang ini. Kali yuga segera akan tiba, yang ditandai dengan kegoncangan dunia sebagai akibat oleh awidya (kegelapan). Raja-raja tidak lagi memberi sedekah, tetapi sebaliknya justru raja-raja yang disedekahi oleh orang-orang kaya”.

Kitab Manawa Dharmasastra menyebutkan, yang dianggap paling berharga pada jaman Kali sekarang ini adalah uang atau harta benda. Bila uang dapat dikuasai, segala benda pemuas nafsa akan mudah didapatkan.
Pada salah satu bait kekawin Niti Sastra menyebutkan:

“Yan Yuganta Kali dateng tan hana
mengeluwihaning Sang Maha-dana,
Sang Sura Pandita Widagda pada
mengayap ring Sang Daneswara”.

Atinya : “Bila jaman kali datang,
tidak ada yang lebih hebat dari orang kaya,
Para Ksatria (pejabat),
Pendeta dan orang pandai,
semua sebagai pelayan orang kaya”.

Bertolak dari “hitam kusamnya” jejak-jejak yang dibawa oleh zaman Kali, antisipasi-antisipasi apa yang mungkin masih bisa diupayakan guna meminimalkan pengaruhnya. Jawabannya sudah jelas adalah “back to Religion”, kembali ke jalan Dharma. Jadi bagaimana pelaksanaannya dharma di era Kali Yuga ini adalah minimal, tetap bisa membentengi diri kita di era Kali Yuga ini adalah setidak-tidaknya, tetap bisa mempertahankan kewajiban yang hanya tinggal seperempatnya itu dengan membentengi diri kita dengan Sradha (keimanan) yang kuat. Untuk memelihara etos kerja supaya tetap memiliki semangat melayani yang tinggi, kita bisa simak isi Sloka Bhagawadita (11.47) di bawah ini :

“Kewajibanmu hanyalah pada pelaksanaan kerja,
tidak ada hasil dari kerja itu.
Jangan hasil pekerjaan itu jadi motivasimu
dalam melaksanakan kerja.
Dan jangan sekali-kali engkau berdiam diri”.

Ditingkat sadhanah (pendakian spiritual) atau pendekatan diri kepada Tuhan, kita bisa simak Sloka berikut:

Perenungan/samadi adalah cara rnenghubungkan diri kepada Tuhan di jaman Satya Yuga, kurban suci jaman Yuga, pemujaan pada lingga di jaman
Dwapara Yuga, dan pengucapan maha mantra/kirtanam di jaman Kali Yuga.
(Srimad Bhagawatam 12.3.52)

Jadi berdasaran sloka di atas, cara yang paling tepat dilakukan untuk mendekatkan diri dengan Tuhan di jaman Kali ini, adalah dilakukan kidung suci (kirtanam) dan menyebut nama Tuhan (namasmaranam). Dalam membentengi iman kita, sedemikian sehingga kita memiliki persepsi yang teguh, internalisasi yang mendalarn tentang kekuatan hukum karma, dan dapat memaknai realitas suka duka kehidupan, sloka berikut sangat kontekstual untuk kita kontemplasikan di jaman “kebendaan” sekarang ini:

“ayuh karma ca vittani ca
vidya nidham eva ca
pancaitani hi srjyante
garbhasthasyewa dehinah”.

Umur, pekerjaan, kekayaan,
Pengetahuan dan kematian,
kelima hal ini sudah ditentukan
sewaktu kita masih ada dalam
kandungan.
(Canakya Nitisastra IV.1)

Dalam upaya mengurangi rasa kikir, pengaturan Bhoga, Upabboga, dan Paribhoga, serta memobilisasi semangat berdana punya, bisa kita simak apa yang tersurat dan tersirat dalam sloka berikut:

Hendaknya perolehan harta benda itu dibagi tiga, satu bagian untuk kepentingan dharma/dana punya bagian kedua untuk memenuhi kama, dan bagian ketiga untuk kegiatan usaha memperoleh artha. Demikian hakekat pembagiannya oleh orang yang ingin memperoleh kebahagiaan. (Sarasamuscaya 262).

Perolehan sebanyak banyaknya dan berikan pula sebanyak-banyaknya. Hendaknya engkau bekerja dengan seratus tanganmu dan berdamailah dengan tanganmu.
(Atharvaveda VII.50.8)

Ucapan Svami Vivekanda berikut merupakan senjata ampuh untuk menangkal/menanggulangi gejala seksual yang kian merebak di era yuga ini. Sudah barang tentu tidak cukup hanya dengan menyimak ucapan beliau saja, namun diperlukan upaya penyadaran diri terus-menerus untuk menepis perilaku asusila yang satu ini. Dalam buku Suara Vivekananda, beliau berkata:

“Bagi para pria, setiap wanita,
kecuali isterinya sendiri harus
dianggap/dipandang
sebagai ibunya sendiri”.

Dan bagi para wanita, setiap pria,
kecuali suaminya sendiri harus
dianggap sebagai anaknya.”

Andaikan saja setiap insan (kaum laki dan perempuan) mempunyai pandangan/pemikiran seperti Vivekananda, maka dunia ini akan terbebas dari pelecehan seksual.

Harapan:
Hembusan angin Kali Yuga kian deras di setiap sudut kehidupan di bumi ini. Kita sebagai umat tidak akan pernah kekurangan/ kehilangan tempat berpijak
di tataran “landasan Spiritual”, guna meminimalkan pengaruh jaman kali ini. Berbuatlah seperti anak kera (markata nyaya), yang berpegang teguh kepada induknya, agar tidak jatuh, manakala sang induk loncat dari dahan yang satu ke dahan yang lain. Berperilakulah seperti anak kucing (Marjara Nyaya), serahkan diri sepenuhnya, kendati sang induk tampak seperti memakannya, namun itulah cetusan kasih sayang sang induk kepada anaknya.
[WHD No. 518 Pebruari 2010].

Bendera Pengunjung

Flag Counter

TRANSLATOR

kalender

November 2017
M S S R K J S
« Agu    
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  

Ayo Gabung dengan yang lainnya
Masukan Alamat Email mu

Bergabunglah dengan 1.906 pengikut lainnya