Sedang Dibaca
UMUM

Sepenggal Sulaman Sejarah Gorontalo

Tradisi mokarawo atau membuat sulaman adalah sepenggal sejarah yang pernah diselamatkan kaum perempuan Gorontalo. Dulu Belanda berupaya menghilangkan berbagai tradisi dan identitas lokal. Tradisi ini sudah ada sejak tahun 1600-an, jauh sebelum Belanda berkuasa di wilayah ini tahun 1889.

Saat Belanda masuk ke wilayah ini ada dua peristiwa penting yang mewarnai sejarah Gorontalo. Pertama, banyaknya warga masuk dan menetap di hutan dan wilayah terpencil karena enggan membayar pajak kepada Pemerintah Belanda. Keturunan orang-orang ini hingga kini masih berdiam di hutan dan wilayah terpencil, yang oleh warga Gorontalo dikenal dengan sebutan Polai.

Kedua, upaya penghapusan segala bentuk tradisi, adat, dan hal-hal terkait berkesenian atau kebudayaan yang ada pada masyarakat Gorontalo. Saat itu Belanda melihat kekuatan orang Gorontalo terletak pada adat, budaya, dan tradisi. Karena itu, dilaranglah berbagai aktivitas yang terkait dengan adat dan tradisi.

Sejarawan dari Universitas Negeri Gorontalo, Alim Niode, mengatakan, satu-satunya tradisi saat itu yang tidak berhasil dihilangkan oleh Belanda adalah Mokarawo.

Ini terjadi karena memang tradisi menyulam dilakukan perempuan di tempat tersembunyi di dalam rumah dan dilakukan dengan diam. Hingga Belanda meninggalkan Gorontalo, mereka tidak pernah tahu soal tradisi ini. Itu pula sebabnya mengapa catatan tentang karawo tidak pernah ditemukan dalam sejarah invasi Belanda di wilayah Gorontalo. ”Dengan kata lain, karawo adalah tradisi yang pernah menjadi silent culture di Gorontalo,” kata Alim Niode.

Hengkangnya Belanda tidak serta-merta membuat karawo keluar dari ”persembunyian”. Situasi saat itu dan trauma membuat tradisi mokarawo tetap dilakukan di dalam ruang tersembunyi.

Karawo mulai kembali muncul sekitar akhir tahun 1960-an, tapi belum merupakan produk yang dijual secara bebas seperti barang lain. Saat itu jika ada yang berminat pada karawo, mereka akan datang langsung ke penyulam dan memesan. Karawo kerap dibayar menggunakan uang, kerap pula dibarter dengan barang kebutuhan lain.

Pernah diselamatkan dari ancaman kepunahan saat agresi Belanda dan mengalami masa jaya, kini karawo kembali berada di bawah bayang-bayang kepunahan. Penyebabnya adalah kurangnya generasi muda yang berminat memakai karawo sebagai pakaian, apalagi sebagai penyulam.

Saat ini karawo umumnya dilakukan ibu rumah tangga yang menyebar di sejumlah wilayah di Gorontalo. Tercatat saat ini ada sekitar 10.000 ibu rumah tangga yang masih menekuni karawo.

Karawo adalah mata rantai yang melibatkan pengusaha atau pemilik toko, usaha sulam yang menghimpun kelompok-kelompok penyulam yang menyebar di berbagai tempat. Lalu ada pula ketua-ketua kelompok yang akan berhubungan langsung dengan penyulam, terkait pembagian kerja.

Kompas/Reny Sri Ayu
Sejumlah peserta mengenakan busana berbahan karawo pada Parade Karawo yang menjadi puncak Festival Karawo 2012 di Gorontalo, Munggu (9/12). Festival digelar untuk mengggugah minat orang pada Karawo, sekaligus menjadikan karawo sebagai identitasd Gorontalo

Di ambang punah

Sejumlah kegiatan untuk mempromosikan karawo, yang membuat sulaman unik dan rumit ini kembali naik daun, tak bisa menghapus keresahan akan bayang-bayang punahnya karawo. Perkembangan zaman, teknologi, dan maraknya beragam budaya asing yang dibawa berbagai media membuat penyulam-penyulam resah.

Keresahan antara lain dirasakan Hj Iko Mandai (55) yang sejak kecil sudah pandai menyulam dan kini menghimpun 260 perempuan penyulam. Menurut Iko, keberadaan televisi dengan beragam acara dan beragam teknologi komunikasi di antaranya telepon genggam, iPad, dan jejaring sosial telah merampas minat generasi muda dari tradisi menyulam.

Iko menuturkan, semasa kecilnya, anak-anak yang masih duduk di bangku SD umumnya sudah bisa membuat sulaman. Menyulam biasanya dilakukan sepulang sekolah di sela mengerjakan pekerjaan rumah.

”Sekarang, anak-anak muda lebih senang berada di mal, di warnet, main telepon, dan lainnya. Kalaupun diminta oleh orangtuanya untuk membantu, mereka akan menyulam di depan televisi dan akhirnya lebih banyak waktu yang habis untuk menonton atau sambil SMS-an, BBM-an, Facebook-an ketimbang menyulam. Bahkan, ibu- ibu pun kerap menyulam sambil nonton sehingga pekerjaan menjadi lambat,” kata Iko di rumah sulamnya di Kecamatan Telaha, Kabupaten Gorontalo.

Kalsum (31), penyulam lainnya, bercerita bagaimana siswa SD di sekitar rumahnya akan datang membawa kain dan meminta dibuatkan sulaman jika mereka mendapat tugas keterampilan, membuat karawo dari sekolah.

Kondisi ini membuat Iko kerap membawa pesanan karawo kepada penyulam-penyulam yang berdiam di desa terpencil atau pegunungan. Alasannya, penyulam di desa lebih cepat menyelesaikan pesanan karena tidak banyak gangguan.

”Kalau kami yang di gunung belum banyak gangguan. Tak ada listrik, tak ada televisi, telepon, tidak banyak kegiatan. Makanya kalau ada pesanan bisa lebih fokus mengerjakan setelah tugas rumah selesai,” ujar Ince (45), penyulam di Kecamatan Telaga Biru, Kabupaten Gorontalo.

Berbagai upaya dilakukan untuk mempromosikan sekaligus menaikkan gengsi karawo, termasuk pada generasi muda. Yus Iryanto Abbas, perancang busana, terus membuat rancangan yang mengikuti tren dengan bahan kain yang kian beragam. Adapun John Koraa, perancang motif karawo yang sudah menghabiskan lebih separuh hidupnya membuat rancangan motif karawo, juga terus bereksplorasi menciptakan motif-motif baru yang menarik.

Di instansi pemerintah swasta, berkarawo sekali sepekan dan di acara-acara tertentu sudah digalakkan. Adapun Bank Indonesia tak henti melakukan pendampingan kepada para penyulam, termasuk memberi pelatihan kepada anak-anak SMA.

”Kami berharap mendekatkan karawo kepada generasi muda. Bukan hanya menggugah minat memakai, tapi mau berkecimpung dalam industri karawo,” kata Wahyu Purnama, Kepala Bank Indonesia Perwakilan Gorontalo.

BI sejauh ini sudah melatih sekitar 500 anak dan remaja. Sebagai langkah awal tentu harus dibuat agar karawo enak dipandang, nyaman dipakai, dan dengan model terkini hingga orang akan lebih berminat.

Upaya tersebut layak diapresiasi sebagai upaya membangun benteng pertahanan karawo sebagai identitas budaya Gorontalo.

sumber: kompas

BACA JUGA:

About PNG-PUSTAKA

Berkarya Adalah Prestasi yang Luar Biasa

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Bendera Pengunjung

Flag Counter

TRANSLATOR

kalender

Januari 2013
M S S R K J S
« Des   Feb »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

Lebih Dekat Lagi

Ayo Gabung dengan yang lainnya
Masukan Alamat Email mu

Bergabunglah dengan 1.906 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: