Sedang Dibaca
TEKNOLOGI DAN SAINS

SIMULASI DATA LOSAT UNTUK PEMANTAUAN PESISIR

Indonesia merupakan salah satu negara kepulauan terbesar di dunia dengan kawasan pesisir yang sangat luas. Wilayah pesisir sebagaimana diketahui merupakan wilayah dengan intensitas perubahan yang relatif cepat baik akibat dinamika perubahan pemanfaatan lahan di daratan maupun akibat efek pemanasan global. Dengan demikian, pemantauan kawasan pesisir mutlak diperlukan mengingat kawasan pesisir merupakan antarmuka wilayah daratan dan lautan. Diperlukan dukungan data penginderaan jauh mengingat cakupan kawasan yang sangat luas. Namun demikian, sampai saat ketersediaan data masih tergantung pada pihak asing. Untuk itu, diperlukan upaya untuk menuju kemandirian penyediaan data bagi para penentu kebijakan. Program satelit LAPAN telah diarahkan untuk menyediakan data bagi pemantauan sumberdaya alam ditandai dengan beroperasinya satelit LAPAN-TUBSAT dan akan diikuti oleh satelit LAPAN ORARI Satellite (LOSAT). Untuk menunjang pemanfaatan data satelit LAPAN tersebut di masa datang, maka diperlukan simulasi dengan memanfaatkan berbagai pendekatan analisis data. Makalah ini menyajikan hasil simulasi LOSAT pada wilayah pesisir dengan memanfaatkan pendekatan pohon keputusan. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa data LOSAT dapat dimanfaatkan untuk penyediaan data tutupan lahan pesisir dengan akurasi yang baik, yaitu di atas 90%.

Wilayah pesisir merupakan kawasan yang khas dan merupakan penyangga antara kawasan daratan dan lautan. Dalam perkembangannya kawasan pesisir sering mengalami pemanfaatan yang sangat eksploitatif tanpa memperhatikan aspek daya dukung alamiahnya, yang menyebabkan pesisir menjadi wilayah yang rentan terhadap perubahan. Dinamika perubahan yang terjadi disebabkan oleh pengetahuan dan pola pikir yang sangat destruktif dengan mengabaikan kearifan lokal terkait pemanfaatan sumberdaya alam wilayah pesisir. Biodiversitas pada kawasan ini sangat tinggi dengan variasi flora dan fauna yang sangat beragam. Kondisi wilayah pesisir dengan keanekaragaman hayati yang tinggi perlu untuk dipertahankan, namun terjadi kecenderungan pemanfaatan yang berlebihan dan tidak memperhatikan keberlanjutan sumberdaya alamiahnya. Perubahan penggunaan lahan di kawasan pesisir sangat dinamis. Perkembangan kota-kota besar yang berada di wilayah pesisir seperti Jakarta sangat signifikan (Panuju 2004). Perubahan pemanfaatan ruang yang semula merupakan pesisir dengan beting pasir dominan dan lahan rawa dengan biodiversitas yang cukup tinggi berubah penggunaannya menjadi bangunan perumahan dan areal penggunaan lainnya, yang secara langsung merubah karakteristik fisik wilayah pesisir dan berkecenderungan menjadi pola pemanfaatan intensif (Iman, 2008). Tingginya dinamika perubahan penggunaan lahan disertai dengan tingginya intensitas pemanfaatan lahan pada wilayah hulu meningkatkan material terangkut dan terkonsentrasi pada wilayah hilir berupa bahan sedimen permukaan sebagaimana diteliti di Semarang (Marfai et al., 2008). Sementara itu, pemanasan bumi nyata berdampak meningkatkan permukaan air laut rata-rata (MSL), bersifat anomali dan menyebabkan kejadian ekstrim pada wilayah pesisir seperti banjir rob, abrasi pantai dll. Fenomena tersebut sering terjadi pada wilayah pesisir, khususnya Pantai Utara Jawa, dimana perubahan iklim global dan mikro (insitu), telah memberikan efek yang besar terhadap perubahan bentukan awal dari permukaan wilayah pesisir tersebut termasuk karakteristik biota yang hidup di dalamnya. Hutan mangrove banyak dijumpai di kawasan pesisir namun belum banyak ditelaah (Biswas et al. 2009) dan merupakan subyek konversi lahan. Pada berbagai wilayah, konversi mangrove dilakukan untuk mengakomodasi perluasan areal pertambakan seperti yang terjadi di Segara Anakan (Ardli and Wolff 2009). Sebagian wilayah pesisir telah mengalami kerusakan akibat hilangnya lahan mangrove. Kerusakan mangrove tersebut cenderung tidak terkendali dan menjadi penyebab kerusakan wilayah pesisir di Indonesia yang masih perlu penelaahan secara mendalam. Secara umum, kerusakan lingkungan wilayah pesisir termasuk di dalamnya lingkup lahan dan perairan dapat terjadi secara alamiah maupun secara antropogenik. Dinamika yang tinggi dari wilayah pesisir membutuhkan pemantauan yang periodik dan kontinyu. Data penginderaan jauh dan sistem informasi geografis menawarkan metode untuk melakukan pemantauan secara periodik dan kontinyu dengan cakupan yang sangat luas sampai dengan wilayah luar yang tidak terjangkau dengan sistem pemantauan konvensional.

Klik disini untuk mendownload makalah :Simulasi_Data_LOSAT

 

About PNG-PUSTAKA

Berkarya Adalah Prestasi yang Luar Biasa

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Bendera Pengunjung

Flag Counter

TRANSLATOR

kalender

Juni 2012
M S S R K J S
« Mei   Jul »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930

Lebih Dekat Lagi

Ayo Gabung dengan yang lainnya
Masukan Alamat Email mu

Bergabunglah dengan 1.906 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: